Tag Archives: globalisasi

Globalisasi: Sebuah Arus Budaya Instan

Memasuki periode ilmu (dalam bahasa Kuntowijoyo), umat Islam dihadapkan dengan dinamika kehidupan yang serba cepat (speed). Dengan prestasi manusia dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi (terutama informasi), akselerasi perubahan dunia menjadi tidak terbayangkan seperti sebelumnya. Semua proyek besar dunia yang dikuasai oleh kapitalisme global, begitu mudah menuai keberhasilan. Melalui korporasi multinasional yang menjamah hampir seluruh pelosok bumi ini, nyaris tidak ada sisi kehidupan umat yang tidak terimbas olehnya.

Tanpa sadar, angan-angan umat tentang globalisasi sebagai konsekuensi logis dari perkembangan teknologi informasi, menjadi sebuah keniscayaan. Globalisasi seperti sebuah gerak alamiah (sunatullah), yang diciptakan Tuhan, tanpa campur tangan manusia. Ini terjadi, karena globalisasi telah menyebabkan tata aturan (hukum) dunia seperti tidak berlaku lagi. Semua budaya boleh memasuki semua tempat di dunia ini dari segala penjuru arah, tanpa filter yang kuat dari umat. Tanpa peduli terhadap kesesuaiaan dan keserasian budaya asli (local). Selain itu, faktor individu manusia sebagai pencipta ilmu dan teknologi yang telah menyebabkan munculnya globalisasi, juga sangat menentukan akselerasi pertumbuhan globalisasi. Struktur kesadaran individu umat hampir tidak memiliki penolakan terhadap realitas yang terjadi di luar dirinya.

Persoalan yang terakhir ini, menurut Herbert Marcuse disebut sebagai “desublimasi represif”. [1] Semua tampilan yang terlihat dalam kehidupan sehari-hari adalah merupakan pemakluman-pemakluman, sofistikasi moralitas brutal, atau estetisasi nilai-nilai etis. Umat telah kehilangan kekuatan untuk menolak segala sesuatu yang menimpa kehidupannya, baik secara langsung maupun tidak langsung. Perluasan-perluasan budaya yang dilakukan kapitalisme menjadi identik dengan kehidupan umat sendiri, sehingga terjadi taklid membuta terhadap budaya kapitalisme itu. Setiap usaha yang dilakukan umat untuk membongkar (mendekonstruksi) budaya kapitalisme, justru mambantu mempermudah kapitalisme merekonstruksi diri. Kritik terhadap kapitalisme menjelma menjadi eksistensi kapitalisme itu sendiri.

Memandang kepasifan manusia modern yang nyaris tanpa perasaan ini, Erich Fromm berkata bahwa manusia (masyarakat) modern saat ini telah dimesinkan secara total, dicurahkan untuk meningkatkan produksi dan konsumsi material, dan diarahkan oleh mesin-mesin (komputer).[2] Masyarakat dalam proses sosial semacam ini menjadi bagian dari produksi budaya yang dihasilkan oleh mesin-mesin yang diciptakannya sendiri. Manusia melahirkan sistem sosialnya sendiri, tetapi begitu tercipta, ia kehilangan kontrol terhadap sistem tersebut, bahkan berbatik terkontrol oleh sistem.

Dalam pandangan Peter L. Berger, manusia menciptakan masyarakat (beserta sistem sosialnya), dan berbalik masyarakat menciptakan individu.[3] Masyarakat global memaksa individu umat mengikuti keputusan-keputusan yang dibuat dalam kerangka memproduksi budaya global. Umat kehilangan kontrol, dan menjadi terkontrol oleh sistem produksi yang disesuaikan dengan pasar. Kondisi umat semakin terpuruk karena dipaksa berproduksi dan mengkonsumsi tanpa tahu untuk apa dan mengapa.

Dengan demikian, umat tidak bisa menyatakan diri sebagai manusia yang benar-benar bebas dalam arti sebenarnya. Ini disebabkan oleh globalisasi yang membuat jurang pemisah antara negara maju dan negara miskin, semakin lebar. Globalisasi juga mempertegas identitas individu dan sosial, sehingga mempengaruhi aksebilitas individu atau kelompok dalam masyarakat global. Walaupun bermunculan identitas lokal, namun keberadaan pusat tetap memegang kendali kekuasaan dalam segala bidang kekuasaan. Globalisasi tidak menghapuskan hierarki, namun sebaliknya mengemas diri menjadi ketergantungan baru dengan standarisasi yang ditentukan aktor-aktor di pusat kekuasaan. Oleh karena itu, tidak lain globalisasi adalah sofistikasi imeprialisme dalam skala dunia. Semua lini kehidupan dipenuhi dengan dominasi, hegemoni, dan belenggu struktur kekuasaan kapitalisme.

Di tengah realitas yang “menggila” dan tak bermakna ini, produksi-produksi budaya lokal umat yang masih berjalan dengan setitik kesadaran etis, hanya seperti debu-debu jalanan yang beterbangan kesana-kemari tanpa pernah dapat sebuah pengakuan. Alih-alih mendapatkan ruang yang menunjukkan sebuah eksistensial, sebaliknya siap dimanfaatkan sebagai salah satu pendukung budaya kapitalisme dengan kemasan yang melenakan dan mempesona umat.

Perubahan dunia melejit dengan akselerasi tinggi. Orang hanya membutuhkan waktu beberapa detik untuk memperoleh informasi dari belahan dunia lain. Icon “klik” dalam istilah internet adalah kebanggaan dunia informasi.

Revolusi teknologi informasi membuat orang tidak perlu melakukan perjalanan jarak-jauh untuk mengetahui isi dunia. Hanya dengan duduk dan “klik”, kita sudah berwisata ke belahan dunia lain. Dunia tidak ubahnya sebuah “desa global” yang di dalamnya dihuni oleh manusia yang berinteraksi dengan menggunakan kecanggihan teknologi. Jarak-tempuh digantikan dengan selang-waktu. Perjalanan ke negara lain dengan transportasi yang menyita waktu, dapat di lakukan dengan teknologi informasi beberapa detik. Jarak-tempuh antar belahan dunia yang dipisahkan oleh luasnya Samudera, bukan menjadi masalah besar bagi manusia.

Catatan Kecil
[1] Herbert Marcuse, 1964, One Dimensional Man: Studies in the Ideology of Advenced Industrial Society, London, Routlege & Kegan Paul, hlm 3.
[2] Erich Fromm, 1996, Revolusi Harapan: Menuju Masyarakat Teknologi Yang Manusiawi, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, hlm. 1.
[3] Peter L. Berger, 1991, Langit Suci: Agama sebagai Realitas Sosial, alih bahasa: Hartono, Jakarta, LP3ES, hlm. 4.