Tag Archives: anak

Menjaga mutiara tetap berkilau

Dalam Pasal 4 UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan bahwa pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa.

Sekarang ini, pengaruh lingkungan sangat menentukan kepribadian seorang anak. Lingkungan yang baik dan sehat akan menumbuhkembangkan integritas anak menjadi baik dan sehat pula, namun bila sebaliknya anak akan tumbuh dengan emosi dan pikiran serta prilaku moral yang tidak sehat. Hal ini diakibatkan kegagalan orang tua dan orang disekitarnya khususnya para orang dewasa dalam menciptakan suasana yang mengedukasinya sebagai generasi masa depan.

Ancaman Virus pornografi, pornoaksi, menyebar semakin ganas. Pendidikan dan contoh yang tidak senonoh pun seringkali dijumpai baik di keluarga, sekolah ataupun dijalanan. Kalau saja orang tuanya sendiri memberikan didikan tidak senonoh atau pornografi pada anak-anaknya, akibatnya mereka tidak sekedar mempertanyakan ketidakpantasan apa yang diperbuat orang tuanya, akan tetapi mendorong mereka untuk mencoba mengadopsi untuk digunakan sebagai aksesori perjalanan sejarah kehidupannya.

Dalam Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak sudah disebutkan, bahwa orangtua, masyarakat, dan sekolah bersama negara diberi kewajiban menciptakan atmosfer sosial dan edukatif yang mendukung pertumbuhan psikologis dan fisik anak, tetapi sering alpa untuk menyiapkan atmosfer ekologi edukasi terbaik padanya.

Hilangnya atau tereduksinya hak anak untuk tumbuh berkembang dengan baik itu sudah diingatkan oleh Imam Al-Ghazali, bahwa anak akan tumbuh menjadi mutiara yang berkilauan jika diasah dengan didikan yang baik, tetapi sebaliknya, anak akan tumbuh menjadi sosok manusia yang tidak berguna bilamana dididik atau dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan yang bercorak melanggar akhlak.
Dalam titah Al-Gazali, anak akan tetap menjadi mutiara yang berkilau cemerlang sesuai dengan yang mencondongkannya. Anak tidak akan kehilangan cahaya kemilauannya, bilamana dicondongkan pada kebajikan, kebenaran, dan kesusilaan. Sebaliknya, anak akan berperilaku menyimpang, ketika dicondongkan pada ajaran atau perilaku ketidakbenaran dan ketidakpantasan.

Itu menjadi kado kritik kepada orang dewasa, bahwa nasib anak-anak Indonesia, khususnya anak didik ikut ditentukan oleh pola edukasi dan kewaspadaan sebagai orang tua. Kesalahan dan keteledoran serta kesengajaan dalam eksperimentasi budaya asal boleh atau asal menyenangkan akan menjadi celah yang dapat menjerumuskan anak dalam lingkaran setan yang menghancurkan masa depanya.

Mereka itu bisa terseret memasuki pusaran kehidupan pergaulan yang mengajaknya jadi generasi kriminalis akibat pengaruh sepak terjang orang dewasa yang kehilangan habitat kewajiban edukasinya. Orang tua yang terjerumus dalam pembenaran pola berganti-ganti pasangan misalnya, akan menciptakan virus kecenderungan dalam diri anak untuk melakukan hal yang sama atau lebih buruk dibandingkan apa yang diperbuat orang tuanya. Naudzubillahi min dzalik..

Advertisements