The Spirit of Success

Di sekolah kehidupan kita menyaksikan bahwa setiap manusia di dorong oleh suatu keinginan untuk maju, untuk bertumbuh, untuk berkembang, untuk meraih apa yang dipahaminya sebagai kesempurnaan atau kesuksesan hidup. Dorongan untuk mencapai kesempurnaan atau kesuksesan hidup itu saya sebut sebagai spirit keberhasilan (the spirit of success), karena hemat saya dorongan tersebut bersifat spiritual. Dan spirit keberhasilan itu ada dalam diri setiap anak manusia sebagai pertanda bahwa ia adalah mahluk spiritual, disamping tentu saja mahluk bio-sosio-psikologis.

Sejak kecil spirit keberhasilan ini sudah nampak jelas terlihat dalam diri anak-anak sejak balita. Kita bisa saksikan bagaimana anak-anak bicara tentang keinginannya, tentang cita-citanya, tentang masa depannya. Dan hampir tanpa mempertimbangkan latar belakang sosial ekonomi orangtuanya, anak-anak itu berbicara tentang hal-hal yang “besar”. Ada yang ingin jadi pilot, ada yang ingin jadi penyanyi terkenal, ada yang ingin jadi dokter, ada yang ingin jadi pengusaha kaya, ada yang ingin jadi insinyur, ada yang ingin jadi menteri, bahkan jadi presiden, dan sebagainya. Mereka ingin punya pakaian bagus, mainan yang banyak, rumah yang besar seperti istana, mobil yang serba bisa, bahkan pesawat udara, dan seterusnya. Mereka ingin menikah dengan puteri cantik atau pangeran tampan dari negeri seberang. Mereka berjanji akan membelikan orangtuanya sejumlah hal yang belum pernah dimiliki orangtuanya. Pergi ke bulan atau memetik bintang-bintang adalah soal-soal yang mereka anggap akan mampu mereka lakukan kelak, suatu hari nanti. Singkatnya, spirit keberhasilan telah mengembangkan daya imajinasi anak-anak balita sampai pada tingkat yang amat mempesona.

Namun spirit keberhasilan ini perlahan-lahan meredup dalam diri sebagian besar anak-anak yang beranjak remaja dan menjadi manusia dewasa. Mereka mulai menghadapi berbagai masalah dan kesulitan untuk mencapai apa yang mereka inginkan. Lingkungan di mana anak-anak itu dibesarkan, seolah-olah mengajarkan mereka untuk sekadar menyesuaikan diri dengan situasi yang ada, dan bukannya untuk berjuang mengaktualisasikan segenap potensi diri guna mengubah situasi yang ada agar menjadi lebih baik. Sedikitnya dukungan dari lingkungan hidup di sekitarnya, termasuk dan terutama orangtua dan pengajar di sekolah, telah membuat banyak anak-anak usia sekolah dasar belajar untuk merasa tak berdaya, tak yakin akan kemampuannya, dan tak boleh berpikir tentang sesuatu yang besar lagi. Perlahan tapi pasti, anak-anak yang merasa tak berdaya dan tak punya keyakinan diri itu mulai membuang jauh-jauh pikiran-pikiran besar dan cita-cita terbaiknya. Dan jika perasaan tak berdaya ini berkembang terus, maka pada gilirannya ia akan melahirkan orang-orang yang pesimis memandang masa depannya.

Untunglah tidak semua anak-anak kemudian kehilangan spirit keberhasilannya. Sebagian anak-anak, terutama yang terlatih dalam menghadapi berbagai kesulitan hidup di usia pra-remaja, tumbuh dan berkembang dengan cita-cita besar yang membara untuk mengubah situasi dan kondisi hidupnya. Mereka terus mencari cara untuk mencapai yang terbaik. Mereka—dan orang-orang yang mendampingi mereka—percaya bahwa keberhasilan hanya akan diraih oleh orang-orang yang berani menetapkan tujuan-tujuannya dan kemudian bekerja keras terus menerus sampai mereka mencapainya. Mereka meninjau kemajuannya pada setiap langkah, dan merayakan keberhasilan pada tahap-tahap tertentu. Untuk tujuan-tujuan yang belum tercapai, mereka menarik pelajaran dari seluruh proses yang telah dilalui, dan mencari cara lain untuk kembali memulai usaha ke arah itu. Mereka merasa yakin akan kemampuan mereka, dan keyakinan itu melahirkan gagasan-gagasan baru, gagasan-gagasan yang lebih besar, gagasan-gagasan yang membuat mereka bergairah dalam setiap langkah mereka. Mereka selalu melihat adanya harapan, dan karena itu mereka berkembang menjadi orang-orang yang optimis dalam menyongsong masa depan.

Jika setiap anak manusia yang dilahirkan di muka bumi ini memiliki spirit keberhasilan di dalam dirinya, lalu bagaimana kita menjelaskan kenyataan di atas? Mengapa sejumlah masalah, kesulitan, dan tantangan hidup membuat anak-anak tertentu bertumbuh menjadi orang-orang yang pesimis, sementara anak-anak yang lainnya berkembang menjadi pribadi-pribadi yang optimis dalam memandang masa depan mereka? Mengapa, ketika diperhadapkan pada masalah yang sama, kesulitan yang sama, tantangan yang sama, sejumlah orang bisa memberikan respons yang berbeda-beda? Manakah yang membuat seseorang itu bisa menjadi pesimis atau optimis, tingkat kesulitan yang dihadapinya ATAU cara ia merespons kesulitan-kesulitan tersebut?

Carol Dweck, peneliti dari University of Illinois menunjukkan bahwa anak-anak yang menganggap kesulitan sebagai sesuatu yang bersifat tetap [berkata pada dirinya “Saya bodoh”] belajar lebih sedikit dibanding dengan anak-anak yang menganggap penyebab-penyebab kesulitan sebagai hal yang sifatnya sementara ”Saya tidak mencoba dengan sungguh-sungguh”. Anak-anak yang merasa tidak berdaya memusatkan perhatian pada penyebab kegagalan—umumnya diri mereka sendiri—, sedangkan anak-anak yang berorientasi pada penguasaan materi memusatkan perhatiannya pada cara-cara untuk memperbaiki kegagalan. Anak-anak yang merasa tak berdaya, menghubungkan kegagalannya dengan kurangnya kemampuan (bersifat tetap), sementara rekan-rekan mereka mengaitkan kegagalannya dengan kurangnya usaha untuk itu (bersifat sementara).

Sejalan dengan penelitian Dweck, Martin Seligman dari University of Pennsylvania dan sejumlah peneliti lain di bidang psikologi kognitif dan pengembangan emosional, menegaskan bahwa yang menentukan pesimis atau optimisnya seseorang adalah pola respons-nya terhadap suatu keadaan yang dianggap sebagai kesulitan/masalah. Pola respons menunjukkan pada perilaku yang sudah menjadi kebiasaan sebagai hasil pembelajaran dalam waktu tertentu. Mereka yang menganggap kesulitan sebagai sesuatu yang bersifat permanen ”Ini tidak akan pernah berubah”, meluas menjadi ”Ini akan menghancurkan segala-galanya”, dan sangat pribadi ”Ini semua kesalahan saya”, menunjukkan pola respons yang pesimis. Mereka yang merespons kesulitan/masalah sebagai sesuatu yang bersifat sementara ”Ini akan berlalu/bisa diatasi”, terbatas (”Ini hanya dalam soal yang satu ini saja”), dan eksternal (”Ada sejumlah faktor yang menyebabkan hal ini”), menunjukkan respons yang optimis.

Lebih jauh, studi Seligman dan kawan-kawan menunjukkan bahwa mereka yang memiliki pola respons pesimis hampir selalu dikalahkan oleh mereka yang memiliki pola respons optimis. Agen asuransi yang optimis menjual lebih banyak polis dibanding agen-agen yang pesimis, sekalipun mereka sebenarnya memiliki potensi-potensi yang relatif setara bagusnya. Agen properti yang optimis menjual 250-320 persen lebih banyak dari agen properti yang pesimis. Studi-studi lanjutan menunjukan konsistensi hal tersebut. Pelajar yang optimis mengungguli pelajar yang pesimis. Manajer yang optimis mengungguli manajer yang pesimis. Tim-tim olahraga yang optimis menggungguli tim-tim olahraga yang pesimis. Rakyat cenderung memilih pemimpin yang menunjukkan optimisme ketimbang pesimisme. Bahkan terbukti pula bahwa mereka yang merespons kesulitan secara optimis memiliki usia hidup lebih panjang daripada mereka yang merespons secara pesimis.

Apa yang paling menarik dari studi-studi Seligman dan kawan-kawannya adalah bahwa rasa tak berdaya adalah hasil pembelajaran. Sebaliknya rasa percaya diri, percaya pada kemampuan untuk mengubah atau mengendalikan suatu keadaan, juga merupakan hasil pembelajaran. Cara seseorang menjelaskan suatu peristiwa kepada dirinya (self talk), atau cara seseorang merespons suatu peristiwa yang menimpa dirinya, entah itu respons yang pesimis atau pun respons yang optimis, adalah hasil pembelajaran pula. Artinya, karena semua itu merupakan pola respons yang dibiasakan lewat proses pembelajaran, maka ia bisa dihentikan dan diubah. Mereka yang sering merasa tak berdaya bisa mulai belajar untuk merasa berkemampuan. Mereka yang selama ini terbiasa memberikan respons yang pesimis, bisa mulai belajar untuk memberikan respons yang optimis. Sebab apa saja yang diperoleh dari hasil pembelajaran bisa dihentikan dan diubah unlearning, jika ia tidak mendatangkan kebaikan dan manfaat bagi kehidupan kita.

Sesungguhnya, rasa tak berdaya dan respons pesimis bukanlah faktor nasib, bukan faktor yang kita warisi secara genetika dari orangtua dan nenek moyang, bukan faktor permanen seperti sifat dasar yang tak bisa diubah. Demikian juga rasa berkemampuan, percaya diri, dan respons optimis bukanlah faktor keberuntungan, melainkan hasil pembiasaan yang bisa mulai kita pelajari tahap demi tahap. Dan belajar untuk percaya pada kemampuan diri, belajar untuk memberikan respons yang optimis terhadap kesulitan-kesulitan dalam hidup, adalah pelajaran yang penting dan semakin penting dalam konteks kehidupan masyarakat dewasa ini. Bukan saja karena kehidupan masyarakat dewasa ini memperhadapkan kita pada kesulitan-kesulitan yang makin berat dan kompleks, tetapi terlebih lagi karena hanya dengan rasa berdaya dan optimis kita bisa tetap menumbuhkan spirit keberhasilan dalam diri kita masing-masing. Rasa tak berdaya dan pola respons yang pesimis akan menganiaya spirit keberhasilan yang merupakan karunia ilahi dalam diri setiap kita. Dan jika spirit keberhasilan ini terus teraniaya, maka kita akan menjalani hidup yang jauh dari potensi diri kita yang sesungguhnya. Hal yang terakhir ini harus mati-matian kita hindari, bukan?

Cayooooo!

*) Tulisan ini adalah satu bab dari 29 bab dalam buku best-seller “Mindset   Therapy (Gramedia, 2010)”, karya ke-37 Andrias Harefa
*) Andrias Harefa, mindset therapist, penulis 38 buku best-seller; trainer/speaker coach berpengalaman 20 tahun; pendiri http://www.pembelajar.com

 

Advertisements

Berhentilah jadi gelas, Jadikan qalbumu jadi sebesar danau

Seorang guru sufi mendatangi seorang muridnya ketika wajahnya belakangan ini selalu tampak murung.

“Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah di dunia ini? Ke mana perginya wajah bersyukurmu?” sang Guru bertanya.
“Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya,” jawab sang murid muda.

Sang Guru terkekeh. “Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam.Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu.”

Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang diminta.

“Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu,” kata Sang Guru.
“Setelah itu coba kau minum airnya sedikit.”

Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air asin.

“Bagaimana rasanya?” tanya Sang Guru.
“Asin, dan perutku jadi mual,” jawab si murid dengan wajah yang masih meringis.

Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis keasinan.
“Sekarang kau ikut aku.” Sang Guru membawa muridnya ke danau di dekat tempat mereka. “Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau.”

Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah di hadapan mursyid, begitu pikirnya. “Sekarang, coba kau minum air danau itu,” kata Sang Guru sambil mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir danau.

Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, dan membawanya ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin dan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru bertanya kepadanya, “Bagaimana rasanya?”

“Segar, segar sekali,” kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan punggung tangannya. Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber air di atas sana. Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah. Dan sudah pasti, air danau ini juga menghilangkan rasa asin yang tersisa di mulutnya.

“Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?”
“Tidak sama sekali,” kata si murid sambil mengambil air dan meminumnya lagi. Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya, membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas.

“Nak,” kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum. “Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih. Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Allah, sesuai untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah.”

Si murid terdiam, mendengarkan.

“Tapi Nak, rasa `asin’ dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besarnya ‘qalbu’(hati) yang menampungnya. Jadi Nak, supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan qalbu dalam dadamu itu jadi sebesar danau.”

 

(From : Suluk – logsome)

 


carut marut bangsaku

Capek menyaksikan episode kekuasaan yang korup, pelecehan hukum di kalangan penegaknya, dan para pemimpin yang tidak bisa mengambil keputusan. Barangkali episode carut marut bangsa ini memang sedang dalam wujudnya yang paling kasat mata. Lelah, capek, frustrasi, dan melemahkan semangat kita.

Efek langsung yang nyata, apakah yang akan terjadi terhadap bangsa ini di masa depan? Imajinasi tentang masa depan bangsa, saat ini sudah merupakan hal yang langka, dan menjadi sekedar tontonan masyarakat Indonesia.

Sistem perekonomian nasional yang akrab dengan krisis. Hingga cita-cita keadilan sosial yang makin hari makin jauh dari harapan. Amat rumit dan melelahkan, terbayang pula bagaimana mengurai semua permasalahan di atas. Adakah jalan pintas bagi kerumitan ini?

Jawabannya adalah memang tidak ada. Periode carut marut, krisis kebangsaan, krisis lembaga negara, krisis kepemimpinan politik, ditambah krisis ekonomi yang telah dan sedang berlangsung harus dijalani. Sejarah bangsa-bangsa yang berusaha bangkit pasca kediktatoran atau kekuasaan monolitik, selalu harus melalui tahap super kompleksitas ini.

Jika merujuk pada kisah-kisah pewayangan Jawa yang banyak menceritakan jatuh bangunnya wangsa penguasa, periode carut marut seperti di Indonesia sekarang ini adalah Periode Panji saat sudah tidak ada lagi pahlawan. Tidak ada lagi patron yang hebat, tidak ada lagi tokoh politik pujaan, tidak ada lagi orang suci atau orang besar.

Dalam wayang periode panji, pertarungan politik menyebar di antara tokoh-tokoh lokal, wilayah-wilayah kecil, dengan berbagai permasalah yang beragam. Tapi dalam periode muncul pula sosok Satria Wirang atau pemimpin yang hanya peduli pada citra, hanya berkutat pada hal yang akan memperburuk citranya, yang hanya merasa malu karena takut reputasinya memburuk, dan tidak pernah yakin pada dirinya sendiri.

Ironis karena cerminan dari kisah itu sekarang ada di depan mata. Satu hal yang bisa diambil hikmah dari carut marut yang sedang terjadi adalah adanya kondisi yang memaksa banyak orang untuk belajar dan menjadi dewasa dalam melihat persoalan bangsa.

Melihat bahwa banyaknya rentetan kejadian tidak berdiri sendiri banyak hal yang mempengaruhinya. Setiap tindakan mempunyai sisi baik dan buruk. Suatu ide yang bagus tidak berarti mudah untuk diwujudkan dalam kenyataan. Seringkali dengan berusaha bekerja seadanya jauh lebih penting dari gagasan yang brilyan sekalipun. Mekanisme jatuh bangun, salah posisi, koreksi terus menerus, dan ruang terbuka bagi perbedaan pada akhirnya akan mampu membentuk sistem. Ya, Sistem yang tahan terhadap berbagai macam kompleksitas yang dimunculkan dalam masa carut marut bangsa. Mungkinkah dengan jalan REVOLUSI bisa menuntaskan kebobrokan system yang ada….??? Entahlah.

Menurut Aristoteles Negara adalah sebuah asosiasi beradab. Dimana bertujuan untuk mengembangkan kebaikan bersama. Pemerintahanlah yang melaksanakan tujuan moral negara secara normal dan real, dan dengan tidak mengerjakan perbuatan sesat dan korup. Namun, tatkala para penguasa menjalankan roda pemerintahan, demi memuaskan nafsunya belaka, maka mereka bukanlah para penguasa yang real atau normal, akan tetapi orang – orang yang sesat.

Dalam demokrasi ada prinsip yang harus kita pegang bahwa sebagai warga Negara yang baik harus memiliki kemampuan menilai, seperti apakah pemerintah yang sedang berkuasa, apakah layak didukung kembali atau harus diganti pada pemilu yang akan datang? Andalah yang menentukan. * <hendi ms>

 

 


Pesan bagi pemimpin

Seorang raja yang sudah memasuki usia senja sedang mempersiapkan putranya agar suatu ketika kelak dapat menggantikan dirinya. Ia mengirim putranya pada seorang bijak untuk belajar mengenai kepemimpinan. Setelah menempuh perjalanan panjang, bertemulah putra mahkota ini dengan si orang bijak. ”Aku ingin belajar padamu cara memimpin bangsaku,” katanya. Orang bijak menjawab, ”Masuklah engkau ke dalam hutan dan tinggallah disana selama setahun. Engkau akan belajar mengenai kepemimpinan.”

Setahun berlalu. Kembalilah putra mahkota ini menemui si orang bijak. ”Apa yang sudah kau pelajari?” tanya orang bijak. ”Saya sudah belajar bahwa inti kepemimpinan adalah mendengarkan,” jawabnya. ”Lantas, apa saja yang sudah engkau dengarkan?” ”Saya sudah mendengarkan bagaimana burung-burung berkicau, air mengalir, angin berhembus dan serigala melonglong di malam hari,” jawabnya. ”Kalau hanya itu yang engkau dengarkan berarti engkau belum memahami arti kepemimpinan. Kembalilah ke hutan dan tinggallah disana satu tahun lagi,” kata si orang bijak.

Walaupun penuh keheranan, putra mahkota ini kembali mengikuti saran tersebut. Setahun berlalu dan kembalilah ia pada si orang bijak. ”Apa yang sudah kau pelajari,” tanya orang bijak. ”Saya sudah mendengarkan suara matahari memanasi bumi, suara bunga-bunga yang mekar merekah serta suara rumput yang menyerap air. ”Kalau begitu engkau sekarang sudah siap menggantikan ayahmu. Engkau sudah memahami hakekat kepemimpinan,” kata si orang bijak seraya memeluk sang putra mahkota.

Syarat utama kepemimpinan adalah kemampuan mendengarkan. Manusia diciptakan dengan dua telinga dan satu mulut. Ini adalah isyarat bahwa kita perlu mendengar dua kali sebelum berbicara satu kali. Mulut juga didisain tertutup sementara telinga kita dibuat terbuka. Ini juga pertanda bahwa kita perlu lebih sering menutup mulut dan membuka telinga.
Prinsip dasar inilah yang sebetulnya perlu dipahami oleh seorang pemimpin dimana pun ia berada, apakah ia memimpin negara, perusahaan, organisasi, rumah tangga maupun diri sendiri. Semua masalah yang terjadi di dunia ini senantiasa bermula dari satu hal: Kita terlalu banyak bicara tapi kurang mau mendengarkan orang lain. Kita memiliki terlalu banyak statement (pernyataan), tetapi terlalu sedikit statesman (negarawan) yang ditandai dengan kemauan untuk mendengarkan pihak lain.

Tetapi, mendengarkan dengan telinga sebenarnya baru merupakan tingkat pertama mendengarkan. Seperti yang ditunjukkan dalam cerita di atas, seorang pemimpin bahkan dituntut untuk dapat mendengarkan hal-hal yang tak bisa didengarkan, menangkap hal-hal yang tak dapat ditangkap, serta merasakan hal-hal yang tak dapat dirasakan oleh orang kebanyakan. Seorang pemimpin perlu mendengarkan dengan mata. Inilah tingkat kedua mendengarkan. Dalam proses komunikasi ada banyak hal yang tidak dikatakan tapi sering ditunjukkan dengan tingkah laku dan bahasa tubuh. Orang mungkin mengatakan tidak keberatan memenuhi permintaan Anda, tapi bahasa tubuhnya menunjukkan hal yang sebaliknya.  Seorang karyawan yang merasa gajinya terlalu rendah mungkin tidak menyampaikan keluhannya dalam bentuk kata-kata tetapi dalam bentuk perbuatan. Seorang yang merasa bosan dengan lawan bicaranya juga sering menunjukkan kebosanan itu lewat gerakan tubuhnya. Nah, kalau Anda tidak dapat menangkap tanda-tanda ini, Anda belum memiliki kepekaan yang diperlukan sebagai pemimpin.

Tingkat ketiga adalah mendengarkan dengan hati. Inilah tingkat mendengarkan yang tertinggi. Penyair Kahlil Gibran menggambarkan hal ini dengan mengatakan: ”Adalah baik untuk memberi jika diminta, tetapi jauh lebih baik bila kita memberi tanpa diminta.” Kita memberikan sesuatu kepada orang lain karena penghayatan, rasa empati dan kepekaan kita akan kebutuhan orang lain. Disini orang tak perlu mengatakan atau menunjukkan apapun. Kitalah yang langsung dapat menangkap apa yang menjadi kebutuhannya. Komunikasi berlangsung dari hati ke hati dengan menggunakan ”kecepatan cahaya”.
Sayang, amat jarang pemimpin di Indonesia yang memiliki kepekaan ini. Jangankan di level ketiga, untuk sampai ke level pertama yaitu mendengarkan dengan telinga saja masih banyak yang belum mampu. Lihatlah apa yang terjadi pada masyarakat kita. Berbagai bencana yang dialami masyarakat, mulai dari banjir, gempa bumi, flu burung, hingga demam berdarah tidak ditanggapi pemerintah dengan serius.

Bahkan himbauan dari berbagai kelompok masyarakat kepada para politisi tertentu agar tidak mencalonkan diri karena tergolong politisi busuk dan pelaku KKN dianggap sebagai angin lalu. Orang-orang ini – bahkan yang sudah terbukti tidak mampu sekalipun – masih ngotot mencalonkan dirinya sebagai presiden. Karena itu, marilah kita berdoa agar negara ini tidak lagi dipimpin oleh orang yang ”tuli”, ”bisu” dan ”buta”. Apalagi oleh orang yang ”buta” hati nuraninya dan hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri.

Dikutip dari tulisannyaBang Arvan Pradiansyah, penulis buku You Are A Leader!


Menghindari perpecahan

‘Dan, janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.” (QS Ali Imraan [3]: 105).

Mari, kita mengingat perumpamaan tentang sapu lidi. Beberapa lidi yang disatukan, kemudian diikat bagian pangkalnya, dapat digunakan untuk bersih-bersih ketimbang hanya sebatang saja. Filosofi di balik perumpamaan itu tak lain adalah persatuan.

Kehidupan manusia dapat berjalan baik, sebagaimana sebuah sapu lidi, jika manusia mempererat ikatannya. Disadari ataupun tidak, manusia membentuk kumpulan berdasarkan ikatan tertentu. Umat Islam merupakan kumpulan dari para Muslim yang terikat oleh kesamaan akidah.

Menjadi ujian bagi akidah umat Islam manakala sebuah konflik memicu perpecahan di dalamnya. Akankah kita membiarkan perselisihan itu terus terjadi dan melemahkan kekuatan umat Islam? Apakah kita mengoreksi diri? Sudahkah akidah Islam dipegang teguh?

Akidah itu mewujud dalam keyakinan di hati, ucapan, dan tindakan. Konsekuensinya adalah bersedia menjadi insan yang bertakwa. Kuat lemahnya akidah tampak dari sejauh mana memosisikan perintah dan larangan-Nya.

Di sinilah letak fungsi koreksi, diperlukan orang lain untuk menilai perbuatan kita. Karena itu, ada kewajiban untuk saling menasihati (QS Al Ashr [103]:3). Hanya saja, manusia memang berbeda dengan lidi. Terdapat potensi perbedaan satu sama lain. Terkait hal ini, Sang Pencipta telah memberikan batas-batasannya.

Selama itu tidak mengutak-atik akidah yang sifatnya tidak dapat diganggu gugat, perbedaan tidak sepatutnya menjadi persoalan. Ketika akal manusia tidak digunakan untuk memikirkan kebenaran secara benar dan tindakan yang diambil tidak pula tepat serta memperturutkan hawa nafsu dengan enggan mendengarkan nasihat orang lain, perselisihan pun muncul yang mengakibatkan perpecahan.

Jika perselisihan itu timbul dan perpecahan umat ada di depan mata, satu-satunya jalan adalah kembali kepada akidah Islam. Sebagaimana lidi yang dengan pasrah menerima dirinya diikat, umat Islam seharusnya juga demikian, bersedia dan rela diikat dengan akidah.

Nasihat ini berlaku bagi semua pihak di dalam umat ini, baik aparat pemerintah maupun masyarakat umum. Akidah merupakan keterangan yang jelas dari Sang Pencipta. Tentunya, kita tidak ingin umat berselisih dan bercerai-berai, padahal akidah telah mengikat kita. Atau, maukah kita termasuk orang-orang yang disebutkan ayat di atas? Naudzubillahi min dzalik!

Sumber : Republika


Makna Allah menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi

Allah berfirman kepada para malaikat ketika akan menciptakan Adam, ”Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. (Al-Baqarah:30). Banyak kaum muslimin yang keliru dalam memahami ayat ini, yakni sebagai wakil/pengganti Allah dalam mengurus bumi. Makna khalifah yang benar adalah kaum yang akan menggantikan satu sama lain, kurun demi kurun, dan generasi demi generasi, demikian penjelasan dalam ringkasan Tafsir Ibnu Katsier

”Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: ”Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: ”Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?”. Tuhan berfirman: ”Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”(Al-Baqarah:30)

Allah Ta’ala memberitahukan ihwal pemberian karunia kepada Bani Adam dan penghormatan kepada mereka dengan membicarakan mereka di al-Mala’ul Ala, sebelum mereka diadakan. Maka Allah berfirman, ”Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat”. Maksudnya, Hai Muhammad, ceritakanlah hal itu kepada kaummu”, ”Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di bumi”, yakni suatu kaum yang akan menggantikan satu sama lain, kurun demi kurun, dan generasi demi generasi, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, ”Dialah yang menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah di bumi” (Fathir: 39). Itulah penafsiran khalifah yang benar, bukan pendapat orang yang mengatakan bahwa Adam merupakan khalifah Allah di bumi dengan berdalihkan firman Allah, ”Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.”

Abdur Razaq, dari Muammar, dan dari Qatadah berkata berkaitan dengan firman Allah, ”Mengapa Engkau hendak menjadikan di bumi orang yang akan membuat kerusakan padanya”, Seolah-olah malaikat memberitahukan kepada Allah bahwa apabila di bumi ada makhluk, maka mereka akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah di sana. Perkataan malaikat ini bukanlah sebagai bantahan kepada Allah sebagaimana diduga orang, karena malaikat disifati Allah sebagai makhluk yang tidak dapat menanyakan apa pun yang tidak diizinkan-Nya.

Ibnu Juraij berkata bahwa sesungguhnya para malaikat itu berkata menurut apa yang telah diberitahukan Allah kepadanya ihwal keadaan penciptaan Adam. Maka malaikat berkata, ”Mengapa Engkau hendak menjadikan di bumi itu oranig yang akan membuat kerusakan padanya?”.

Ibnu Jarir berkata, ”Sebagian ulama mengatakan, ‘Sesungguhnya malaikat mengatakan hal seperti itu, karena Allah mengizinkan mereka untuk bertanya ihwal hal itu setelah dibentahukan kepada mereka bahwa khalifah itu terdiri atas keturunan Adam. Mereka berkata, ”Mengapa Engkau hendak menjadikan orang yang akan membuat kerusakan padanya?” Sesungguhnya mereka bermaksud mengatakan bahwa di antara keturunan Adam itu ada yang melakukan kerusakan. Pertanyaan itu bersifat meminta informasi dan mencari tahu ihwal hikmah. Maka Allah berfirman sebagai jawaban atas mereka, Allah berkata, ”Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui,” yakni Aku mengetahui kemaslahatan yang baik dalam penciptaan spesies yang suka melakukan kerusakan seperti yang kamu sebutkan, dan kemaslahatan itu tidak kamu ketahui, karena Aku akan menjadikan di antara mereka para nabi, rasul, orang-prang saleh, dan para wali.

Syaikh Muhammad Nasib Ar-Rifa’i berkata dalam ringkasan Tafsir Ibnu Katsiernya :
Saya berpendapat bahwa konsep khalifah mengharuskan secara pasti tiadanya pihak yang digantikan, baik tiadanya itu secara total atau hanya sebagian, baik tiadanya itu karena kematian, perpindahan, dicopot, mengundurkan diri, atau karena sebab lain yang membuat pihak yang digantikan tidak dapat melanjutkan aktivitasnya. Misalnya Anda berkata: ”Abu Bakar merupakan khalifah Rasulullah shalallahu wa’alaihi wa sallam” yakni setelah Rasul meninggal. Atau Anda berkata: ”Rasulullah menjadikan Ali sebagai khalifah di Madinah,” yaitu ketika Nabi shalallahu wa’alaihi wa sallam pergi dari Madinah untuk melakukan salah satu perang. Bila konsep ini telah jelas dan melahirkan kepuasan, maka orang yang merasa puas tadi akan menemukan kekeliruan pendapat orang yang mengatakan bahwa Adam dijadikan Allah sebagai khalifah-Nya di bumi. Kekeliruan itu disebabkan oleh hal-hal berikut ini.

1.        Adalah mustahil tiadanya Allah dari kerajaan-Nya, baik secara total maupun sebagian. Dia senantiasa mengurus langit dan bumi dan tidak ada suatu perkara seberat Dzarrah pun yang ada di langit dan di bumi yang terlepas dari pengetahuan-Nya. Jadi, Dia tidak membutuhkan khalifah, wakil, pengganti, dan tidak pula butuh kepada pihak yang ada di dekat-Nya. Dia Mahakaya dari semesta alam.

2.        Jika keberadaan Adam atau jenis manusia itu layak untuk menggantikan Allah, maka dia harus memiliki sifat-sifat yang menyerupai sifat-sifat Allah Ta’ala, dan Mahasuci Allah dari sifat-sifat yang dapat diserupai manusia. Jika manusia, sebagaimana seluruh makhluk lainnya, tidak menyandang sifat-sifat yang menyerupai sifat-sifat Allah, bahkan makhluk tidak memilikinya, sedangkan Allah Maha Sempurna pada seluruh sifat-Nya, maka terjadilah ketidaksamaan secara total. Maka bagaimana mungkin orang yang berkekurangan menggantikan pihak Yang Mahas Sempurna? Maha Suci Allah dari adanya pihak yang menandingi dan menyerupai. ”Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (asy-Syuura: 11)

3.        Adalah sudah pasti bahwa manusia tidak layak menjadi khalifah atau wakil Allah, bahkan hal sebaliknyalah yang benar, yaitu Allah sebagai khalifah dan wakil. Simaklah beberapa firman berikut ini. ”Cukuplah Allah menjadi Wakil (Penolong) kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung”(Ali Imran: 173). ”Dan Allah Maha Mewakili segala sesuatu.”(Hud: 12). ”Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya.”(At-Thalaq: 3). ”Dan cukuplah Allah sebagai Wakil”(An-Nisa’: 81) Dalam hadits mengenai doa bepergian, Nabi shalallahu wa’alaihi wa sallam bersabda, ”Ya Allah, Engkaulah yang menyertai perjalanan dan yang menggantikan dalam mengurus keluarga (yang ditinggalkan)”

4 Tidak ada satu dalil pun, baik yang eksplisit, implisit, maupun hasil inferensi, baik di dalam Al-Qur’an maupun Sunnah yang menyatakan bahwa manusia merupakan khalifah Allah di burni, karena Dia berfirman, ”Sesungguhnya Aku akan menjadikan seorang khalifah di bumi”. Ayat ini jangan dipahami bahwa Adam ‘alaihis salam adalah khalifah Allah di bumi, sebab Dia bertirman, ”Sesungguhnya Aku akan menjadikan khalifah di bumi.” Allah mengatakannya demikian, dan tidak mengatakan, ”Sesungguhnya Aku akan menjadikan, untuk-Ku, seorang khalifah di bumi”, atau Dia mengatakan, ”Sesungguhnya Aku akan menjadikan seorang khalifah bagi-Ku di bumi”, atau ”menjadikan khalifah-Ku”. Dari mana kita menyimpulkan bahwa Adam atau spesies manusia sebagai khalifah Allah di bumi? Ketahuilah, sesungguhnya urusan Allah itu lebih mulia dan lebih agung daripada itu, dan Maha Tinggi Allah dari perbuatan itu. Namun, mayoritas mufasirin mengatakan, ”Yakni, suatu kaum menggantikan kaum yang lain, kurun demi kurun, dan generasi demi generasi.”

Ulama lain menafsirkan ayat di atas dengan ”menjadikan sebagai khalifah bagi makhluk sebelumnya yang terdiri atas jin atau makhluk lain yang mungkin berada di muka bumi yang ada sebelum spesies manusia.

Penafsiran yang pertama adalah lebih jelas karena dikuatkan dengan AlQur’an dan Sunnah. Adapun orang yang berpandangan bahwa yang dimaksud dengan khilafah ialah khilafah dalam penetapan hukum semata, maka pandangan ini tidak dapat diterima. Karena hukum yang valid ialah yang bersumber dari wahyu yang telah ditetapkan Allah, bukan hukum si khalifah, namun hukum Allah, dan hukum itu merupakan sarana penghambaan kepada Allah. Alangkah jauhnya jarak antara ibadah dengan perwakilan dan kekhilafahan. Jadi, jelaslah bahwa orang yang menghukumi itu tiada lain hanyalah menetapkan hukum Allah, bukan inenggantikan-Nya.

Referensi:
Ringkasan Tafsir Ibnu Katsier, Syaikh Muhammad Nasib Ar-Rifa’i


Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!