Kesalehan Autentik

Tujuan puasa adalah menjadi orang yang bertakwa (QS al-Baqarah: 183). Takwa merupakan puncak kualitas kepribadian dan sosok terbaik manusia, yang berbasis pada iman dan kebaikan yang melampaui, sebagaimana firman Allah dalam Alquran surah Al-Baqarah: 177. Orang bertakwa itu mampu menahan amarah dan pemaaf, sekaligus menjadi sosok terbaik (QS Ali Imran: 134). Dalam konteks spiritual, orang bertakwa itu memiliki kualitas kesalehan yang autentik.

Mereka yang berpuasa selalu bertindak benar dan jujur, serta tidak dusta dan naif hatta ketika dapat peluang. Perbuatan baiknya wujud kesalehan yang murni, tidak dibuat-buat. Berbuat baik tidak akan riya, sebaliknya ketika salah, dia jujur mengakui kesalahannya kemudian tidak mengulanginya. Ketika diajak bertengkar sekalipun, orang berpuasa sebagaimana diajarkan Nabi akan berkata, “Aku sedang berpuasa”. Benteng rohaninya kokoh, sehingga tidak gampang diterpa perangai mudah marah dan segala perilaku buruk yang didorong hawa nafsu.

Orang bertakwa harus menampilkan perilaku saleh dalam dirinya sekaligus kepada sesama, seperti kepekaan, kepedulian, kebersamaan, toleransi, suka bekerja sama dalam kebaikan, serta tidak bekerja sama dalam dosa dan permusuhan, cinta pada perdamaian dan persaudaraan. Orang bertakwa juga harus mampu merawat dan memakmurkan alam dengan sikap amanah dan tidak menghancurkannya. Pendek kata, orang bertakwa itu hidupnya haruslah melahirkan ihsan (kebaikan semesta) dan tidak fasad (berbuat kerusakan) dalam kehidupan.

Orang yang sungguh-sungguh bertakwa tidak akan korupsi, baik diawasi maupun tidak diawasi, ketika memperoleh peluang ataupun tidak. Mereka yang bertakwa tidak akan aji mumpung ketika berkuasa dan memperoleh amanat rakyat, tidak berlebihan, tamak, serta menyia-nyiakan dan mengkhianati mandat rakyat. Mereka yang bertakwa, hatinya selalu peka dan tidak buta-tuli terhadap derita rakyat.

Orang bertakwa, apakah sebagai pejabat, pengusaha, politikus, pegawai, profesional, dan warga negara haruslah memiliki sifat Nabi, yaitu shidiq, amanah, tabligh, fathanah, dan uswah hasanah. Siapa pun yang benar-benar bertakwa, tidak akan rakus dan berlebihan dalam hidupnya. Mereka yang bertakwa tidak akan melakukan pembiaran terhadap segala bentuk penyimpangan dan perusakan hajat hidup publik.

Jika puasa diproyeksikan untuk meraih derajat takwa, mari jadikan puasa sebagai jihad rohaniah, yakni proses bersungguh-sungguh, menempa diri menjadi manusia yang sebenar-benarnya takwa (QS Ali-Imran: 102). Seluruh sikap hidupnya menjadi lebih baik dalam segala hal, termasuk kata sejalan tindakan.

Karena itu, dari puasa Ramadhan, setiap Muslim harus melakukan hijrah perilaku dari hal-hal buruk ke hal-hal baik, dari hal baik ke hal lebih baik lagi, sehingga mencapai puncak tertinggi ketakwaan dalam seluruh aspek kehidupan. Pada bulan Syawal sebagai buah dari ibadah Ramadhan, kita harus benar-benar “takhrij min al-dhulumat ila al-nur”, keluar dari segala kegelapan  menuju pada tatanan kehidupan yang berperadaban mulia.

Apabila setelah Ramadhan  tidak tejadi pencerahan hidup kaum Muslimin, apalagi sampai jatuh ke kehidupan yang buruk, puasa yang dilakukan sebulan penuh itu hanyalah puasa puasa rukun tanpa isi, sebagaimana sabda Nabi SAW yang artinya: “Banyak orang yang berpuasa, tiada hasil puasanya kecuali lapar dan dahaga.” (HR Nasai, Ibn Majah, dan Hakim).

Kini ujian penting bagi kaum Muslimin bakda puasa dan ibadah Ramadhan ialah bagaimana mewujudkan nilai-nilai takwa dalam kehidupan bersama. Kehidupan yang saleh. Puasa semestinya melahirkan perilaku saleh yang bemuara membangun keadaban diri dan keadaban publik yang utama. Di tengah terpaan gelombang media sosial yang liberal dan perilaku serbaboleh, maka orang yang berpuasa harus berhasil menebar benih kebaikan perilaku utama, seperti sikap benar, damai, santun, halus budi, toleran, dan perangai emas lainnya sebagai pantulan kesalehan individual dan kesalehan sosial yang harmonis dan autentik!

 

oleh  : Heidar Nashir

Sumber : REPUBLIKA.CO.ID

Advertisements

%d bloggers like this: