Keistimewaan Ramadhan

Dari 12 bulan dalam Islam, hanya Ramadhan yang disebut dalam Alquran, tepatnya pada surah al-Baqarah [2]: 185. Jika Muharram sebagai pembuka bulan, Ramadhan berada pada urutan kesembilan. Sebuah urutan yang spesial, karena menempati pada angka tertinggi, yaitu 9. Angka 10 bukan angka tertinggi karena angka 1 dan 0 sudah disebut pada angka-angka sebelumnya.

Sedikit mengurai keistimewaan angka 9. Ramadhan diletakkan urutannya pada the most numeric ini. Ada tingkat keunikan pada angka 9. Semua angka yang dikalikan dengan 9, ketika hasilnya terlihat lalu dijumlahkan maka akan bertemu dengan angka 9. Misal 9 x 2 = 18; ada angka 1 dan 8. Jika dijumlahkan keduanya sama dengan 1 + 8 = 9; contoh lain 9 x 3 = 27; angka 2 dan 7 jika dijumlah jadi 9. Begitu juga, dengan 9 x 4 = 36; 3 + 6 = 9. Atau 9 x 5 = 45; 4 + 5 = 9. Begitu seterusnya dengan angka-angka lain.

Dan subhanallah, bukan sebuah kebetulan jika Ramadhan diletakkan oleh Allah pada urutan ke-9. Karena di bulan inilah, tingkat keunikan dalam makna penuh keistimewaan, betul-betul memancar dan dirasakan. Yang merasakan keistimewaan Ramadhan bukan hanya orang-orang yang beriman, melainkan juga oleh mereka yang tidak beriman kepada-Nya. Seakan kehadiran Ramadhan sebagai juru kebaikan bagi siapa pun yang mendiami planet bumi ini.

Secara teologis, Ramadhan menjadi bulan pembeda dari bulan-bulan lain. Inilah bulan diturunkannya Alquran (QS al-Baqarah [2]: 185), bulan yang di dalamnya ada Lailatul Qadar (Malam Kemuliaan) (QS al-Qadr [97]: 1-3), bulan yang digunakan untuk menjalankan salah satu Rukun Islam (Puasa) (QS al-Baqarah [2]: 183), bulan yang jika mengerjakan perbuatan-perbuatan baik di dalamnya, seperti puasa dan salat tarawih, akan menghapuskan dosa-dosa (kecil) yang telah lalu [HR Bukhari], bulan yang dibuka pintu surga, dibuka pinta rahmat, ditutup pintu neraka, dan setan dibelenggu [HR Muslim], bulan yang amalan sunah akan diganjar pahala layaknya amalan wajib [HR Muslim], bulan yang berlipat pahala menjadi 70 kali bagi amalan wajib [HR Muslim].

Dan secara sosiologis, cerita berikut sebuah pembuktian bahwa Ramadhan sangat istimewa. Dengan sedikit kelakar sekelompok “Engko dan Enci” (non-pribumi), mendatangi seorang ustaz. Hal ini sebagai upaya berterima kasih mereka karena turut mendapati ‘kue’ Ramadhan. “Pak Ustaz, jujur kami salut dengan Ramadhan, karena kami dari kelompok nonpribumi yang punya usaha di Tanah Abang, betul-betul banyak sekali mendapati keuntungan; bisa sampai 10 kali lipat. Semua karena Ramadhan. Inilah usulan kami. Mohon disampaikan kepada pihak MUI, bisakah setiap bulan itu Ramadhan!”

“Ha… ha…”, di hati penulis tersenyum semringah. Ramadhan benar-benar sangat istimewa. Ia datang bukan hanya menabur kebaikan buat orang yang menyambut dan menghidupkannya. Bahkan, hingga berlipat dirasakan oleh orang yang jauh dari sujud kepada Allah. Semoga tentu saja, kehadiran Ramadhan tahun ini, mengetuk pintu hidayah dan membuka jalan lebar bagi kebaikan dan perbaikan umat di negeri tercinta ini. Aamiin.

 

Oleh: Ustaz Arifin Ilham

Sumber : REPUBLIKA.CO.ID


%d bloggers like this: