Category Archives: Uncategorized

Puasa dan Pembangunan Insan Beradab

Puasa (siyam) secara etimologi bermakna; bertahan atau mencegah. Sedangkan secara terminologis syariah, yang dimaksud puasa adalah menahan diri dari makan, minum, dan dari hal-hal yang membatalkannya sejak terbit fajar hingga terbenam matahari dengan niat ibadah kepada Allah Swt. Menahan dan mencegah di sini maksudnya, menahan hawa nafsu. Jadi, inti puasa itu ‘berperang’. Objek yang ditaklukan adalah hawa nafsu.

Karena itu, makna hakikat puasa adalah melingkup dzahir dan batin. Tidak hanya menahan makan-minum, namun juga menahan hati dan anggota tubuh dari dosa (melihat dan mendengar sesuatu yang haram, berbohong, ghibah, adu-domba dan lain-lain). Sebab, dosa hati tersebut menyebabkan gugurnya pahala puasa. Bahkan, di antaranya meninggalkan sesuatu yang makruh. Imam al-Ghazali mengatakan, hakikat puasa merupakan amal dalam batin yang memerlukan kesabaran murni (Muhammad Jamaluddin al-Qasimi,Mauidzatul Mu’minin min Ihya’ Ulumi al-Din, hal. 58).

Jadi, puasa mengandung fungsi ganda; mendidik dzahir manusia sekaligus batinnya. Amalannya dengan mengendalikan nafsu. Nafsu perlu ditaklukan karena mengandung kekuatan amarah dan syahwat yang terdapat pada diri manusia. Nafsu tidak bisa ‘dibunuh’, karena itu bagian dari diri manusia. Namun nafsu perlu dikendalikan.

Mengendalikan nafsu dilakukan dengan mempersempit dan membatasi jalannya. JIka nafsu mengajak untuk merasakan senangnya maksiat maka perlawanan dilakukan dengan nikmatnya menjalani ibadah. Bila nafsu mengajak ghibah, maka nafsu harus ditarik dengan menyibukkan lisan dengan dzikir kepada Allah Swt.

Nafs yang mengajak kepada keburukan dinamakan nafs hayawaniyah sedangkan nafs yang mengajak kepada kebaikan dinamakan nafs aqliyah. Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas membagi jiwa menjadi dua. Pertama, jiwa aqli (al-nafs al-natiqah). Kedua, jiwa hayawani (al-nafs al-hayawaniyyah). Menurutnya, adab terhadap diri adalah jika jiwa aqli mampu mengendalikan jiwa hayawani sehigga tunduk dalam kekuasaannya. Artinya meletakkan jiwa aqli dan jiwa hayawani pada tempatnya yang wajar (Syed Muhammad Naquib al-Attas,Tinjauan Ringkas Peri Ilmu dan Pandangan Alam, hal.43). Sebab, jiwa aqli lebih tinggi kedudukannya daripada jiwa hayawani.

Jiwa hayawani lebih tunduk kepada perintah setan. Mengajak untuk menentang Tuhan-nya. Karena itu, manusia yang tidak merasa berat menghina Allah, menghina Rasul-Nya dan agama Islam adalah manusia yang cacat jiwanya. Disebabkan jiwa hewani menguasainya. Sedangkan jiwa aqlinya mati.

Jika jiwa aqli yang menguasai jiwa hayawani, maka jiwa tersebut menjadi jiwa Islami. Jiwa yang tunduk kepada aturan-aturan Allah Swt. Inilah yang disebut al-nafs al-muthmainnah (jiwa yang tenang). Yaitu jiwa yang jika melaksanakan ketaatan dan ibadah dia akan merasakan ketenangan jiwa. Sebaliknya, jiwa ini tidak tertarik lagi untuk memenuhi dorongan syahwat setan.

Perjuangan jiwa aqli untuk menguasai jiwa hewani ini disebut mujahadah. Aktivitasnya disebut tazkiyatun nafs (pembersihan jiwa). Membersihkan nafs dari jiwa-jiwa hewani.

Al-Haris al-Muhasibi menggambarkan, “JIka kau mampu memutuskan syahwat nafsu dunia, maka akalmu akan mampu mengalahkan berbagai ambisi nafsu. Artinya kau kembalikan nafsu kepada akhirat. Karena nafsu hewani itu tumbuh kembang di dalam sifat ketamakan” (Al-Muhasibi,Adab al-Nufus, hal. 39).

Syed Al-Attas, sebagaimana dikutip oleh Adian Husaini, mendorong proses tazkiyatun nafs agar diri manusia menjadi beradab dengan mendudukan potensi aqliyahnya sebagai pengendali potensi hayawaniyah-nya (Adian Husaini,Mewujudkan Indonesia Adil dan Beradab,hal. 121).

Jiwa dan pikiran yang Islami -yaitu yang bersih- selalu patuh dan tunduk kepada syariat Allah Swt, beradab, bermoral dan terbebas dari kekuasaan nafsu untuk membenci agama. Jiwa dan pikiran yang patuh kepada-Nya terisi nilai-nilai suci, tiada nilai lain kecuali nilai Islam dan kebenaran.

Dengan demikian, tazkiyatun nafs maknanya bukan sekedar membersihkan diri manusia dari sifat-sifat sombong, hasud, dengki, dan lain-lain, akan tetapi hakikat tazkiyatun nafs adalah membebaskan diri manusia dari ketundukan dan kepatuhan terhadap ketidak-adilan jiwa yang condong kepada duniawi dan pikiran materialisme.
Amalan ini dapat disebut adab terhadap diri. Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud mengatakan:

“Adab terhadap diri seseorang dimulai apabila seseorang mengakui dwi-hakikatnya, yakni al-nafs al-natiqah (rational soul) dan al-nafs al-hayawaniyyah (animal soul). Apabila yang pertama (al-nafs al-natiqah) menaklukkan yang kedua (al-nafs al-hayawaniyyah) dan menjadikannya berada dalam kendalinya, maka seseorang telah menempatkan keduanya di tempat yang wajar, sehingga ia telah menempatkan dirinya di tempat yang benar. Keadaan demikian dinamakan keadilan (adl) pada diri insan dan lawannya ialah kezaliman” (zulm al-nafs) (Wan Mohd Nor Wan Daud,Peranan University Pengislaman Ilmu Semasa, Penafibaratan dan Penafijajahan, hal. 80).

Maka, seseorang yang berhasil menjadikan jiwa aqli nya sebagai pengendali jiwa hewani-nya maka ia telah menjadi insan adabi. Prof. Al-Attas menjelaskan sifat dari insan adabi ini: “Seseorang yang secara jujur menyadari akan tanggungjawabnya kepada Allah Swt; yang memahami dan memenuhi segala kewajiban untuk dirinya dan orang lain di dalam masyarakat secara adil; dan yang senantiasa berusaha memperbaiki segala aspek dalam dirinya agar mencapai kesempurnaan sebagai seseorang yang beradab” (Wan Mohd Nor Wan Daud,Peranan University Pengislaman Ilmu Semasa, Penafibaratan dan Penafijajahan, hal. 77).

Insan adabi merupakan orang-orang beriman yang memiliki pandangan berbeda dengan orang kafir dan sekular dalam melihat realitas wujud. Pandangan dan pikiran insan adabi ini tidak hanya berhenti pada aspek materi dan dunia ini saja. Sehingga, ia menempatkan Tuhan Allah Swt sebagai realitas tertinggi. Ia tidak merasa hebat dan merasa pintar dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Tidak merasa berhak mengatur Tuhannya. Kesetiannya pada Tuhan berada paling tinggi dari pada kesetiaan kepada makhluk.

Jika kita percaya bahwa Allah Swt itu wujud, maka sangat mungkin kita percaya bahwa di sana ada arti dan tujuan hidup. Dan jika kita konsisten, kita akan percaya bahwa sumber nilai moral bukanlah berdasarkan kesepakatan manusia tapi merujuk kepada kehendak Allah Swt dan Allah merupakan nilai tertinggi.
Karena itu, ia adalah orang yang bertakwa dengan sebenarnya. Dalam al-Qur’an, manusia bertakwa itu manusia yang paling mulia (QS. 49:13). Jadi, orang bertakwa itu adalah orang mukmin yang kondisi pikiran dan jiwanya merasakan kehadiran Allah Swt di mana saja ia berada.

Karena itu, sudah selayaknya umat Islam menjadikan takwa sebagai standar kemajuan suatu masyarakat. Karena di saat orang itu bertakwa, maka jiwanya rasional. Bukan berjiwa hewani. Tentu saja semua sepakat bahwa yang memiliki akal adalah manusia bukan hewan, dan manusia lebih mulia daripada hewan.

Standar suatu masyarakat itu maju bukan dilihat dari aspek materi. Gedung-gedung pencakar langit yang indah, jalananan yang rapi, pendapatan per-bulan tinggi bukan disebut maju bila penghuninya manusia-manusia yang jiwanya masih hayawaniyah. Karena itu, untuk melahirkan masyarakat yang baik, perlu perbaikan jiwa individu melalui pendidikan yang tepat.

Pemikiran materialisme – yang menjadikan kebendaan sebagai ukuran segalanya –tidak relevan sebagai standar kemajuan suatu masyarakat. Sebab, pembangunan manusia yang lebih utama adalah dari jiwanya, bukan raganya. Bisa jadi raga sehat, tetapi jiwa nya sakit. Tetapi, bila raga ada yang sakit, jiwa-nya masih sehat, maka manusia masih mampu menjadi insan adabi.

 

Sumber : Inpasonline.com-

 

Advertisements

Ulama, Indonesia dan Bung Karno

Tema pergerakan umat Islam di hari-hari terakhir ini tampak sedikit ‘bergeser’ pada titik tekannya. Jika sebelumnya lantang digelorakan “Aksi Bela Islam”, maka kini yang tegas disuarakan adalah “Aksi Bela Ulama”. Di sejumlah kota, berbagai “Aksi Bela Ulama” digelar. Sementara, di Jakarta, aksi serupa dilaknakan pada 11/02/2017. Terkait ini, menarik jika kita kuak: Mengapa ulama harus kita bela dan apa pula kata Bung Karno tentang ulama?

Kata BK
“Aksi Bela Islam” berbuah “Aksi Bela Ulama”. Pada yang pertama, aksi dilakukan untuk mendorong aparat yang berwenang agar menangani Kasus Penistaan Agama yang dilakukan Ahok berjalan sebagaimana mestinya. Sementara, pada yang kedua, aksi dilakukan karena ada gelagat bahwa tokoh-tokoh kunci penggerak Aksi Bela Islam yang tergabung di dalam Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) ‘dipersulit posisinya’. Keadaan seperti yang disebut terakhir itu lazim disebut sebagai kriminalisasi ulama.

Bersamaan dengan bergulirnya masalah itu, beredar pula wacana Sertifikasi Ulama. Wacana ini, sontak ditolak oleh banyak kalangan. Wajar jika wacana ini tak popular. Pertama, sertifikasi ulama bisa membuat dakwah tak bergairah. Misal, ada figur yang potensial tapi dia tidak berkenan untuk disertifikasi karena menilai hal itu sebagai sesuatu yang tak berdasar. Atau, ada yang mau disertifikasi, tapi dipersulit proses sertifikasinya karena –misalnya- ‘performa’-nya tak seperti yang diidealkan Si “Penerbit Sertifikat”. Akibat dari dua keadaan tersebut sama-sama tidak baik. Hal itu akan merugikan umat Islam karena mereka tidak akan bisa lagi mendapatkan dakwah atau pencerahan yang bergizi.

Kedua, sertifikasi ulama bisa saja menjadi media bagi sebuah keinginan untuk membatasi kehidupan dakwah. Kekhawatiran ini mungkin saja terjadi jika ada ulama / da’i yang isi dakwahnya dinilai berada di luar selera Si “Penentu Kebijakan”, maka dia tak akan mendapatkan sertifikat yang dimaksud.
Melihat perkembangan ini banyak yang bersedih. Negeri ini seperti lupa kepada pihak-pihak yang turut melahirkan dan membesarkannya. Untuk itu, ada baiknya kita baca ulang pendapat Bung Karno di soal peran ulama terhadap negeri ini.

Atas proklamasi kemerdekaan RI 17/08/1945, Bung Karno mengakui kontribusi yang sangat besar dari ulama, dengan mengatakan bahwa dirinya “Kalau tanpa dukungan ulama tidak akan berani.” Fragmen itu diterangkan sejarawan Prof. Ahmad Mansur Suyanegara di http://www.eramuslim.com 16/09/2007. Tentu saja, hal tersebut mudah kita mengerti karena kekuatan militer dari umat Islam saat itu luar biasa besar (di samping –tentu saja- semangat jihadnya yang tinggi di bawah bimbingan dan komando ulama).

Adakah informasi menarik yang lain soal peran ulama? Pada 18/08/1945, yang merumuskan Pancasila itu tiga orang, “Yakni, KH Wahid Hasyim dari NU, Ki Bagus Hadi Kusumo dari Muhammadiyah, dan Kasman Singodimedjo juga dari Muhammadiyah. Mereka itulah yang membuat kesimpulan Pancasila itu sebagai ideologi, UUD 1945 sebagai konstitusi. Kalau tidak ada mereka, BPUPKI tidak akan mampu, walaupun diketuai oleh Bung Karno sendiri. Dari situ pula Bung Karno diangkat jadi presiden dan Bung Hatta sebagai wakil presiden. Jadi negara ini yang memberi kesempatan proklamasi seperti itu adalah ulama,” jelas Prof Ahmad Mansur Suyanegara.

Masih di soal peran dan kontribusi ulama. Pada 22/10/2005 http://www.nu.or.id menurunkan tulisan A Khoirul Anam berjudul Resolusi Jihad. Bahwa, pada 21-22/10/1945, wakil-wakil dari cabang Nahdlatul Ulama (NU) di seluruh Jawa dan Madura berkumpul di Surabaya. Di bawah pimpinan langsung Rois Akbar NU Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari dideklarasikanlah perang kemerdekaan sebagai perang suci alias jihad. Belakangan deklarasi itu populer dengan sebutan Resolusi Jihad. “Segera setelah itu, ribuan kiai dan santri bergerak ke Surabaya. Dua minggu kemudian, tepatnya 10 November 1945, meletuslah peperangan sengit antara pasukan Inggris melawan para pahlawan pribumi yang siap gugur sebagai syahid. Inilah perang terbesar sepanjang sejarah Nusantara. Meski darah para pahlawan berceceran begitu mudahnya dan memerahi sepanjang Kota Surabaya selama tiga minggu, Inggris yang pemenang Perang Dunia II itu akhirnya kalah,” tulis A Khoirul Anam.
Terkait hal di atas itu, ada lagi yang sangat menarik. Bahwa sebelum pertempuran 10 November 1945 pecah, Bung Tomo berpidato heroik: “Dan, kita yakin Saudara-Saudara, pada akhirnya pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita, sebab Allah selalu berada di pihak yang benar”.

Jadi, sangat benar, jika bangsa ini –lewat pengaruh dan peran ulama- secara jujur mengakui bahwa kemerdekaan yang diperolehnya semata-mata karena “berkat rahmat Allah”. Paragraf ketiga Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 membuktikannya. Kita baca lagi, bahwa: “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya”.

Singkat kata, Bung Karno tak salah ketika mengatakan bahwa ulama sangat berpengaruh di balik terjadinya proklamasi kemerdekaan RI 17/08/2017. Bung Karno benar saat mendudukkan posisi ulama secara tepat di ‘pelataran’ Indonesia.

Siapa Berani
Lewat uraian ringkas di atas, maka, siapakah di antara kita yang kini (pura-pura?) lupa atas peran signifikan ulama di negeri ini, dulu dan kini? Siapa di antara kita yang kini memosisikan diri tak bersahabat dengan ulama? Terakhir, dalam hal memandang kedudukan dan peran strategis ulama di negeri ini, beranikah kita berbeda pendapat dengan Bung Karno? []

 

sumber : Inpasonline.com-

 


Orangtualah pendidik pertama sekaligus utama

Pendidikan utama dan pertama
Di dalam keluargalah pendidikan sebenarnya harus dimulai, disini pula peletakan dasar pendidikan utama sebelum anak masuk sekolah. Di dalam keluarga anak-anak memperoleh pendidikan dengan bebas dan cintakasih tanpa perlunya perubahan kurikulum yang ketat. Materi pendidikan apa saja yang kemudian dapat dikembangkan kelak jika anak masuk ke sekolah. Pada saat ini orangtua berkewajiban mengajar anak-anak untuk belajar berhitung, membaca, budi pekerti, agama, ilmu alam dst… Sistem pendidikan yang diterapkan, tentu saja sejauh orangtua mampu dan berhasil mendidik, bisa dengan cara keteladanan/contoh ataupun refleksi hidup sehari-hari (dalam istilah sekarang CBSA). Dalam hal pendidikan budi pekerti lebih diutamakan pelaksanaan daripada ajaran atau wacana/omongan “hidden curriculum”.

Ketika orangtua tidak mampu lagi untuk mendidik anak-anaknya, maka mereka minta bantuan instansi pendidikan atau sekolah. Sekolah adalah pembantu orangtua dalam mendidik anak-anaknya. Dengan segala kemampuan, antara lain dana/uang, orangtua berusaha untuk mengusahakan sekolah yang bermutu. Dan yang menarik kita adalah bagaimana orang yang sadar akan pendidikan tidak akan segan-segan untuk membayar mahal demi pendidikan anaknya. Dan memang pendidikan yang bermutu pada hakekatnya mahal , jika orangtua membayar murah pasti ada instansi lain yang membayar, entah pemerintah atau swasta. Dari pengalaman dan pengamatan pribadi, saya juga dapat mensharingkan: orangtua yang baik sungguh sadar akan pentingnya pendidikan bagi anak-anaknya. Maka jika mereka tidak mempunyai uang/dana untuk membayar uang sekolah, tidak segan-segan mereka mencari pinjaman (paling tidak ini pengalaman penulis serta pengamatan penulis terhadap orangtua yang sadar pendidikan).

Belajar dari orangtua
Dalam hal apa kita dapat belajar dari para orangtua, pendidik pertama dan utama, yang berhasil mendidik anak-anaknya. Berikut saya sampaikan refleksi kami:
1) kebebasan dan cinta kasih: tanpa kebebasan dan cintakasih, pendidikan akan gagal. Cintakasih tanpa batas alias bebas, sedangkan kebebasan batasnya adalah cintakasih, dimana orang tidak melecehkan atau merendahkan yang lain (Ingat: Pendidikan yang membebaskan dari Paulo Freire). Dengan kata lain semakin banyak aturan yang dikenakan di dalam dunia pendidikan, hemat kami merupakan rambu-rambu yang menunjukkan pendidikan akan gagal. Dalam hal kebebasan dan cintakasih lebih banyak dibutuhkan keteladanan atau kesaksian dari para pendidik/guru. Anak yang tertekan atau suasana pendidikan yang menekan akan membuat frustrasi, dan jika anak atau siapapun berada dibawah tekanan, jelas mereka tidak akan mudah untuk berkembang dan bertumbuh.
2) perhatian terhadap pendidikan = opsi pada anak-anak: Perhatian orangtua terhadap pendidikan dengan jelas dapat dilihat dengan penyediaan dana yang memadai, meskipun dengan mencari hutang. Sayang negara kita mencari hutang yang begitu besar, tetapi tidak terarahkan ke pendidikan, tetapi ke material. Pemerintah lebih menekankan “material investment” dari pada “human investment”. Atau dalam istilah “the man behind the gun”, lebih memperhatikan “the gun” daripada “the man”. Kami himbau agar para petinggi negara atau bangsa ini atau mereka yang berhasil jadi ‘orang’: sadarlah bahwa pendidikan itu mutlak harus diutamakan. Sediakan dana yang memadai untuk pendidikan, belajarlah dari para orangtua yang berhasil mendidik anak-anaknya: mencari hutang bukan untuk membangun gedung/rumah, tetapi untuk menyekolahkan anak-anaknya.
3) pendidikan budi pekerti/agama sebagai “hidden curriculum”: Pendidikan budi pekerti/agama lebih ditekankan dalam pelaksanaan hidup sehari-hari, yang menjadi nyata dalam cintakasih kepada sesama, terutama terhadap mereka yang miskin atau kurang beruntung. Demikian sekedar sharing pengalaman dan pengamatan pribadi, semoga bermafaat

Quoted by Sangsurya Institute


Menghindari perpecahan

‘Dan, janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.” (QS Ali Imraan [3]: 105).

Mari, kita mengingat perumpamaan tentang sapu lidi. Beberapa lidi yang disatukan, kemudian diikat bagian pangkalnya, dapat digunakan untuk bersih-bersih ketimbang hanya sebatang saja. Filosofi di balik perumpamaan itu tak lain adalah persatuan.

Kehidupan manusia dapat berjalan baik, sebagaimana sebuah sapu lidi, jika manusia mempererat ikatannya. Disadari ataupun tidak, manusia membentuk kumpulan berdasarkan ikatan tertentu. Umat Islam merupakan kumpulan dari para Muslim yang terikat oleh kesamaan akidah.

Menjadi ujian bagi akidah umat Islam manakala sebuah konflik memicu perpecahan di dalamnya. Akankah kita membiarkan perselisihan itu terus terjadi dan melemahkan kekuatan umat Islam? Apakah kita mengoreksi diri? Sudahkah akidah Islam dipegang teguh?

Akidah itu mewujud dalam keyakinan di hati, ucapan, dan tindakan. Konsekuensinya adalah bersedia menjadi insan yang bertakwa. Kuat lemahnya akidah tampak dari sejauh mana memosisikan perintah dan larangan-Nya.

Di sinilah letak fungsi koreksi, diperlukan orang lain untuk menilai perbuatan kita. Karena itu, ada kewajiban untuk saling menasihati (QS Al Ashr [103]:3). Hanya saja, manusia memang berbeda dengan lidi. Terdapat potensi perbedaan satu sama lain. Terkait hal ini, Sang Pencipta telah memberikan batas-batasannya.

Selama itu tidak mengutak-atik akidah yang sifatnya tidak dapat diganggu gugat, perbedaan tidak sepatutnya menjadi persoalan. Ketika akal manusia tidak digunakan untuk memikirkan kebenaran secara benar dan tindakan yang diambil tidak pula tepat serta memperturutkan hawa nafsu dengan enggan mendengarkan nasihat orang lain, perselisihan pun muncul yang mengakibatkan perpecahan.

Jika perselisihan itu timbul dan perpecahan umat ada di depan mata, satu-satunya jalan adalah kembali kepada akidah Islam. Sebagaimana lidi yang dengan pasrah menerima dirinya diikat, umat Islam seharusnya juga demikian, bersedia dan rela diikat dengan akidah.

Nasihat ini berlaku bagi semua pihak di dalam umat ini, baik aparat pemerintah maupun masyarakat umum. Akidah merupakan keterangan yang jelas dari Sang Pencipta. Tentunya, kita tidak ingin umat berselisih dan bercerai-berai, padahal akidah telah mengikat kita. Atau, maukah kita termasuk orang-orang yang disebutkan ayat di atas? Naudzubillahi min dzalik!

Sumber : Republika


Makna Allah menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi

Allah berfirman kepada para malaikat ketika akan menciptakan Adam, ”Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. (Al-Baqarah:30). Banyak kaum muslimin yang keliru dalam memahami ayat ini, yakni sebagai wakil/pengganti Allah dalam mengurus bumi. Makna khalifah yang benar adalah kaum yang akan menggantikan satu sama lain, kurun demi kurun, dan generasi demi generasi, demikian penjelasan dalam ringkasan Tafsir Ibnu Katsier

”Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: ”Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: ”Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?”. Tuhan berfirman: ”Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”(Al-Baqarah:30)

Allah Ta’ala memberitahukan ihwal pemberian karunia kepada Bani Adam dan penghormatan kepada mereka dengan membicarakan mereka di al-Mala’ul Ala, sebelum mereka diadakan. Maka Allah berfirman, ”Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat”. Maksudnya, Hai Muhammad, ceritakanlah hal itu kepada kaummu”, ”Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di bumi”, yakni suatu kaum yang akan menggantikan satu sama lain, kurun demi kurun, dan generasi demi generasi, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, ”Dialah yang menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah di bumi” (Fathir: 39). Itulah penafsiran khalifah yang benar, bukan pendapat orang yang mengatakan bahwa Adam merupakan khalifah Allah di bumi dengan berdalihkan firman Allah, ”Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.”

Abdur Razaq, dari Muammar, dan dari Qatadah berkata berkaitan dengan firman Allah, ”Mengapa Engkau hendak menjadikan di bumi orang yang akan membuat kerusakan padanya”, Seolah-olah malaikat memberitahukan kepada Allah bahwa apabila di bumi ada makhluk, maka mereka akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah di sana. Perkataan malaikat ini bukanlah sebagai bantahan kepada Allah sebagaimana diduga orang, karena malaikat disifati Allah sebagai makhluk yang tidak dapat menanyakan apa pun yang tidak diizinkan-Nya.

Ibnu Juraij berkata bahwa sesungguhnya para malaikat itu berkata menurut apa yang telah diberitahukan Allah kepadanya ihwal keadaan penciptaan Adam. Maka malaikat berkata, ”Mengapa Engkau hendak menjadikan di bumi itu oranig yang akan membuat kerusakan padanya?”.

Ibnu Jarir berkata, ”Sebagian ulama mengatakan, ‘Sesungguhnya malaikat mengatakan hal seperti itu, karena Allah mengizinkan mereka untuk bertanya ihwal hal itu setelah dibentahukan kepada mereka bahwa khalifah itu terdiri atas keturunan Adam. Mereka berkata, ”Mengapa Engkau hendak menjadikan orang yang akan membuat kerusakan padanya?” Sesungguhnya mereka bermaksud mengatakan bahwa di antara keturunan Adam itu ada yang melakukan kerusakan. Pertanyaan itu bersifat meminta informasi dan mencari tahu ihwal hikmah. Maka Allah berfirman sebagai jawaban atas mereka, Allah berkata, ”Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui,” yakni Aku mengetahui kemaslahatan yang baik dalam penciptaan spesies yang suka melakukan kerusakan seperti yang kamu sebutkan, dan kemaslahatan itu tidak kamu ketahui, karena Aku akan menjadikan di antara mereka para nabi, rasul, orang-prang saleh, dan para wali.

Syaikh Muhammad Nasib Ar-Rifa’i berkata dalam ringkasan Tafsir Ibnu Katsiernya :
Saya berpendapat bahwa konsep khalifah mengharuskan secara pasti tiadanya pihak yang digantikan, baik tiadanya itu secara total atau hanya sebagian, baik tiadanya itu karena kematian, perpindahan, dicopot, mengundurkan diri, atau karena sebab lain yang membuat pihak yang digantikan tidak dapat melanjutkan aktivitasnya. Misalnya Anda berkata: ”Abu Bakar merupakan khalifah Rasulullah shalallahu wa’alaihi wa sallam” yakni setelah Rasul meninggal. Atau Anda berkata: ”Rasulullah menjadikan Ali sebagai khalifah di Madinah,” yaitu ketika Nabi shalallahu wa’alaihi wa sallam pergi dari Madinah untuk melakukan salah satu perang. Bila konsep ini telah jelas dan melahirkan kepuasan, maka orang yang merasa puas tadi akan menemukan kekeliruan pendapat orang yang mengatakan bahwa Adam dijadikan Allah sebagai khalifah-Nya di bumi. Kekeliruan itu disebabkan oleh hal-hal berikut ini.

1.        Adalah mustahil tiadanya Allah dari kerajaan-Nya, baik secara total maupun sebagian. Dia senantiasa mengurus langit dan bumi dan tidak ada suatu perkara seberat Dzarrah pun yang ada di langit dan di bumi yang terlepas dari pengetahuan-Nya. Jadi, Dia tidak membutuhkan khalifah, wakil, pengganti, dan tidak pula butuh kepada pihak yang ada di dekat-Nya. Dia Mahakaya dari semesta alam.

2.        Jika keberadaan Adam atau jenis manusia itu layak untuk menggantikan Allah, maka dia harus memiliki sifat-sifat yang menyerupai sifat-sifat Allah Ta’ala, dan Mahasuci Allah dari sifat-sifat yang dapat diserupai manusia. Jika manusia, sebagaimana seluruh makhluk lainnya, tidak menyandang sifat-sifat yang menyerupai sifat-sifat Allah, bahkan makhluk tidak memilikinya, sedangkan Allah Maha Sempurna pada seluruh sifat-Nya, maka terjadilah ketidaksamaan secara total. Maka bagaimana mungkin orang yang berkekurangan menggantikan pihak Yang Mahas Sempurna? Maha Suci Allah dari adanya pihak yang menandingi dan menyerupai. ”Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (asy-Syuura: 11)

3.        Adalah sudah pasti bahwa manusia tidak layak menjadi khalifah atau wakil Allah, bahkan hal sebaliknyalah yang benar, yaitu Allah sebagai khalifah dan wakil. Simaklah beberapa firman berikut ini. ”Cukuplah Allah menjadi Wakil (Penolong) kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung”(Ali Imran: 173). ”Dan Allah Maha Mewakili segala sesuatu.”(Hud: 12). ”Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya.”(At-Thalaq: 3). ”Dan cukuplah Allah sebagai Wakil”(An-Nisa’: 81) Dalam hadits mengenai doa bepergian, Nabi shalallahu wa’alaihi wa sallam bersabda, ”Ya Allah, Engkaulah yang menyertai perjalanan dan yang menggantikan dalam mengurus keluarga (yang ditinggalkan)”

4 Tidak ada satu dalil pun, baik yang eksplisit, implisit, maupun hasil inferensi, baik di dalam Al-Qur’an maupun Sunnah yang menyatakan bahwa manusia merupakan khalifah Allah di burni, karena Dia berfirman, ”Sesungguhnya Aku akan menjadikan seorang khalifah di bumi”. Ayat ini jangan dipahami bahwa Adam ‘alaihis salam adalah khalifah Allah di bumi, sebab Dia bertirman, ”Sesungguhnya Aku akan menjadikan khalifah di bumi.” Allah mengatakannya demikian, dan tidak mengatakan, ”Sesungguhnya Aku akan menjadikan, untuk-Ku, seorang khalifah di bumi”, atau Dia mengatakan, ”Sesungguhnya Aku akan menjadikan seorang khalifah bagi-Ku di bumi”, atau ”menjadikan khalifah-Ku”. Dari mana kita menyimpulkan bahwa Adam atau spesies manusia sebagai khalifah Allah di bumi? Ketahuilah, sesungguhnya urusan Allah itu lebih mulia dan lebih agung daripada itu, dan Maha Tinggi Allah dari perbuatan itu. Namun, mayoritas mufasirin mengatakan, ”Yakni, suatu kaum menggantikan kaum yang lain, kurun demi kurun, dan generasi demi generasi.”

Ulama lain menafsirkan ayat di atas dengan ”menjadikan sebagai khalifah bagi makhluk sebelumnya yang terdiri atas jin atau makhluk lain yang mungkin berada di muka bumi yang ada sebelum spesies manusia.

Penafsiran yang pertama adalah lebih jelas karena dikuatkan dengan AlQur’an dan Sunnah. Adapun orang yang berpandangan bahwa yang dimaksud dengan khilafah ialah khilafah dalam penetapan hukum semata, maka pandangan ini tidak dapat diterima. Karena hukum yang valid ialah yang bersumber dari wahyu yang telah ditetapkan Allah, bukan hukum si khalifah, namun hukum Allah, dan hukum itu merupakan sarana penghambaan kepada Allah. Alangkah jauhnya jarak antara ibadah dengan perwakilan dan kekhilafahan. Jadi, jelaslah bahwa orang yang menghukumi itu tiada lain hanyalah menetapkan hukum Allah, bukan inenggantikan-Nya.

Referensi:
Ringkasan Tafsir Ibnu Katsier, Syaikh Muhammad Nasib Ar-Rifa’i


Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!