Category Archives: kepemimpinan

Puasa dan Pembangunan Insan Beradab

Puasa (siyam) secara etimologi bermakna; bertahan atau mencegah. Sedangkan secara terminologis syariah, yang dimaksud puasa adalah menahan diri dari makan, minum, dan dari hal-hal yang membatalkannya sejak terbit fajar hingga terbenam matahari dengan niat ibadah kepada Allah Swt. Menahan dan mencegah di sini maksudnya, menahan hawa nafsu. Jadi, inti puasa itu ‘berperang’. Objek yang ditaklukan adalah hawa nafsu.

Karena itu, makna hakikat puasa adalah melingkup dzahir dan batin. Tidak hanya menahan makan-minum, namun juga menahan hati dan anggota tubuh dari dosa (melihat dan mendengar sesuatu yang haram, berbohong, ghibah, adu-domba dan lain-lain). Sebab, dosa hati tersebut menyebabkan gugurnya pahala puasa. Bahkan, di antaranya meninggalkan sesuatu yang makruh. Imam al-Ghazali mengatakan, hakikat puasa merupakan amal dalam batin yang memerlukan kesabaran murni (Muhammad Jamaluddin al-Qasimi,Mauidzatul Mu’minin min Ihya’ Ulumi al-Din, hal. 58).

Jadi, puasa mengandung fungsi ganda; mendidik dzahir manusia sekaligus batinnya. Amalannya dengan mengendalikan nafsu. Nafsu perlu ditaklukan karena mengandung kekuatan amarah dan syahwat yang terdapat pada diri manusia. Nafsu tidak bisa ‘dibunuh’, karena itu bagian dari diri manusia. Namun nafsu perlu dikendalikan.

Mengendalikan nafsu dilakukan dengan mempersempit dan membatasi jalannya. JIka nafsu mengajak untuk merasakan senangnya maksiat maka perlawanan dilakukan dengan nikmatnya menjalani ibadah. Bila nafsu mengajak ghibah, maka nafsu harus ditarik dengan menyibukkan lisan dengan dzikir kepada Allah Swt.

Nafs yang mengajak kepada keburukan dinamakan nafs hayawaniyah sedangkan nafs yang mengajak kepada kebaikan dinamakan nafs aqliyah. Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas membagi jiwa menjadi dua. Pertama, jiwa aqli (al-nafs al-natiqah). Kedua, jiwa hayawani (al-nafs al-hayawaniyyah). Menurutnya, adab terhadap diri adalah jika jiwa aqli mampu mengendalikan jiwa hayawani sehigga tunduk dalam kekuasaannya. Artinya meletakkan jiwa aqli dan jiwa hayawani pada tempatnya yang wajar (Syed Muhammad Naquib al-Attas,Tinjauan Ringkas Peri Ilmu dan Pandangan Alam, hal.43). Sebab, jiwa aqli lebih tinggi kedudukannya daripada jiwa hayawani.

Jiwa hayawani lebih tunduk kepada perintah setan. Mengajak untuk menentang Tuhan-nya. Karena itu, manusia yang tidak merasa berat menghina Allah, menghina Rasul-Nya dan agama Islam adalah manusia yang cacat jiwanya. Disebabkan jiwa hewani menguasainya. Sedangkan jiwa aqlinya mati.

Jika jiwa aqli yang menguasai jiwa hayawani, maka jiwa tersebut menjadi jiwa Islami. Jiwa yang tunduk kepada aturan-aturan Allah Swt. Inilah yang disebut al-nafs al-muthmainnah (jiwa yang tenang). Yaitu jiwa yang jika melaksanakan ketaatan dan ibadah dia akan merasakan ketenangan jiwa. Sebaliknya, jiwa ini tidak tertarik lagi untuk memenuhi dorongan syahwat setan.

Perjuangan jiwa aqli untuk menguasai jiwa hewani ini disebut mujahadah. Aktivitasnya disebut tazkiyatun nafs (pembersihan jiwa). Membersihkan nafs dari jiwa-jiwa hewani.

Al-Haris al-Muhasibi menggambarkan, “JIka kau mampu memutuskan syahwat nafsu dunia, maka akalmu akan mampu mengalahkan berbagai ambisi nafsu. Artinya kau kembalikan nafsu kepada akhirat. Karena nafsu hewani itu tumbuh kembang di dalam sifat ketamakan” (Al-Muhasibi,Adab al-Nufus, hal. 39).

Syed Al-Attas, sebagaimana dikutip oleh Adian Husaini, mendorong proses tazkiyatun nafs agar diri manusia menjadi beradab dengan mendudukan potensi aqliyahnya sebagai pengendali potensi hayawaniyah-nya (Adian Husaini,Mewujudkan Indonesia Adil dan Beradab,hal. 121).

Jiwa dan pikiran yang Islami -yaitu yang bersih- selalu patuh dan tunduk kepada syariat Allah Swt, beradab, bermoral dan terbebas dari kekuasaan nafsu untuk membenci agama. Jiwa dan pikiran yang patuh kepada-Nya terisi nilai-nilai suci, tiada nilai lain kecuali nilai Islam dan kebenaran.

Dengan demikian, tazkiyatun nafs maknanya bukan sekedar membersihkan diri manusia dari sifat-sifat sombong, hasud, dengki, dan lain-lain, akan tetapi hakikat tazkiyatun nafs adalah membebaskan diri manusia dari ketundukan dan kepatuhan terhadap ketidak-adilan jiwa yang condong kepada duniawi dan pikiran materialisme.
Amalan ini dapat disebut adab terhadap diri. Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud mengatakan:

“Adab terhadap diri seseorang dimulai apabila seseorang mengakui dwi-hakikatnya, yakni al-nafs al-natiqah (rational soul) dan al-nafs al-hayawaniyyah (animal soul). Apabila yang pertama (al-nafs al-natiqah) menaklukkan yang kedua (al-nafs al-hayawaniyyah) dan menjadikannya berada dalam kendalinya, maka seseorang telah menempatkan keduanya di tempat yang wajar, sehingga ia telah menempatkan dirinya di tempat yang benar. Keadaan demikian dinamakan keadilan (adl) pada diri insan dan lawannya ialah kezaliman” (zulm al-nafs) (Wan Mohd Nor Wan Daud,Peranan University Pengislaman Ilmu Semasa, Penafibaratan dan Penafijajahan, hal. 80).

Maka, seseorang yang berhasil menjadikan jiwa aqli nya sebagai pengendali jiwa hewani-nya maka ia telah menjadi insan adabi. Prof. Al-Attas menjelaskan sifat dari insan adabi ini: “Seseorang yang secara jujur menyadari akan tanggungjawabnya kepada Allah Swt; yang memahami dan memenuhi segala kewajiban untuk dirinya dan orang lain di dalam masyarakat secara adil; dan yang senantiasa berusaha memperbaiki segala aspek dalam dirinya agar mencapai kesempurnaan sebagai seseorang yang beradab” (Wan Mohd Nor Wan Daud,Peranan University Pengislaman Ilmu Semasa, Penafibaratan dan Penafijajahan, hal. 77).

Insan adabi merupakan orang-orang beriman yang memiliki pandangan berbeda dengan orang kafir dan sekular dalam melihat realitas wujud. Pandangan dan pikiran insan adabi ini tidak hanya berhenti pada aspek materi dan dunia ini saja. Sehingga, ia menempatkan Tuhan Allah Swt sebagai realitas tertinggi. Ia tidak merasa hebat dan merasa pintar dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Tidak merasa berhak mengatur Tuhannya. Kesetiannya pada Tuhan berada paling tinggi dari pada kesetiaan kepada makhluk.

Jika kita percaya bahwa Allah Swt itu wujud, maka sangat mungkin kita percaya bahwa di sana ada arti dan tujuan hidup. Dan jika kita konsisten, kita akan percaya bahwa sumber nilai moral bukanlah berdasarkan kesepakatan manusia tapi merujuk kepada kehendak Allah Swt dan Allah merupakan nilai tertinggi.
Karena itu, ia adalah orang yang bertakwa dengan sebenarnya. Dalam al-Qur’an, manusia bertakwa itu manusia yang paling mulia (QS. 49:13). Jadi, orang bertakwa itu adalah orang mukmin yang kondisi pikiran dan jiwanya merasakan kehadiran Allah Swt di mana saja ia berada.

Karena itu, sudah selayaknya umat Islam menjadikan takwa sebagai standar kemajuan suatu masyarakat. Karena di saat orang itu bertakwa, maka jiwanya rasional. Bukan berjiwa hewani. Tentu saja semua sepakat bahwa yang memiliki akal adalah manusia bukan hewan, dan manusia lebih mulia daripada hewan.

Standar suatu masyarakat itu maju bukan dilihat dari aspek materi. Gedung-gedung pencakar langit yang indah, jalananan yang rapi, pendapatan per-bulan tinggi bukan disebut maju bila penghuninya manusia-manusia yang jiwanya masih hayawaniyah. Karena itu, untuk melahirkan masyarakat yang baik, perlu perbaikan jiwa individu melalui pendidikan yang tepat.

Pemikiran materialisme – yang menjadikan kebendaan sebagai ukuran segalanya –tidak relevan sebagai standar kemajuan suatu masyarakat. Sebab, pembangunan manusia yang lebih utama adalah dari jiwanya, bukan raganya. Bisa jadi raga sehat, tetapi jiwa nya sakit. Tetapi, bila raga ada yang sakit, jiwa-nya masih sehat, maka manusia masih mampu menjadi insan adabi.

 

Sumber : Inpasonline.com-

 


Ulama, Indonesia dan Bung Karno

Tema pergerakan umat Islam di hari-hari terakhir ini tampak sedikit ‘bergeser’ pada titik tekannya. Jika sebelumnya lantang digelorakan “Aksi Bela Islam”, maka kini yang tegas disuarakan adalah “Aksi Bela Ulama”. Di sejumlah kota, berbagai “Aksi Bela Ulama” digelar. Sementara, di Jakarta, aksi serupa dilaknakan pada 11/02/2017. Terkait ini, menarik jika kita kuak: Mengapa ulama harus kita bela dan apa pula kata Bung Karno tentang ulama?

Kata BK
“Aksi Bela Islam” berbuah “Aksi Bela Ulama”. Pada yang pertama, aksi dilakukan untuk mendorong aparat yang berwenang agar menangani Kasus Penistaan Agama yang dilakukan Ahok berjalan sebagaimana mestinya. Sementara, pada yang kedua, aksi dilakukan karena ada gelagat bahwa tokoh-tokoh kunci penggerak Aksi Bela Islam yang tergabung di dalam Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) ‘dipersulit posisinya’. Keadaan seperti yang disebut terakhir itu lazim disebut sebagai kriminalisasi ulama.

Bersamaan dengan bergulirnya masalah itu, beredar pula wacana Sertifikasi Ulama. Wacana ini, sontak ditolak oleh banyak kalangan. Wajar jika wacana ini tak popular. Pertama, sertifikasi ulama bisa membuat dakwah tak bergairah. Misal, ada figur yang potensial tapi dia tidak berkenan untuk disertifikasi karena menilai hal itu sebagai sesuatu yang tak berdasar. Atau, ada yang mau disertifikasi, tapi dipersulit proses sertifikasinya karena –misalnya- ‘performa’-nya tak seperti yang diidealkan Si “Penerbit Sertifikat”. Akibat dari dua keadaan tersebut sama-sama tidak baik. Hal itu akan merugikan umat Islam karena mereka tidak akan bisa lagi mendapatkan dakwah atau pencerahan yang bergizi.

Kedua, sertifikasi ulama bisa saja menjadi media bagi sebuah keinginan untuk membatasi kehidupan dakwah. Kekhawatiran ini mungkin saja terjadi jika ada ulama / da’i yang isi dakwahnya dinilai berada di luar selera Si “Penentu Kebijakan”, maka dia tak akan mendapatkan sertifikat yang dimaksud.
Melihat perkembangan ini banyak yang bersedih. Negeri ini seperti lupa kepada pihak-pihak yang turut melahirkan dan membesarkannya. Untuk itu, ada baiknya kita baca ulang pendapat Bung Karno di soal peran ulama terhadap negeri ini.

Atas proklamasi kemerdekaan RI 17/08/1945, Bung Karno mengakui kontribusi yang sangat besar dari ulama, dengan mengatakan bahwa dirinya “Kalau tanpa dukungan ulama tidak akan berani.” Fragmen itu diterangkan sejarawan Prof. Ahmad Mansur Suyanegara di http://www.eramuslim.com 16/09/2007. Tentu saja, hal tersebut mudah kita mengerti karena kekuatan militer dari umat Islam saat itu luar biasa besar (di samping –tentu saja- semangat jihadnya yang tinggi di bawah bimbingan dan komando ulama).

Adakah informasi menarik yang lain soal peran ulama? Pada 18/08/1945, yang merumuskan Pancasila itu tiga orang, “Yakni, KH Wahid Hasyim dari NU, Ki Bagus Hadi Kusumo dari Muhammadiyah, dan Kasman Singodimedjo juga dari Muhammadiyah. Mereka itulah yang membuat kesimpulan Pancasila itu sebagai ideologi, UUD 1945 sebagai konstitusi. Kalau tidak ada mereka, BPUPKI tidak akan mampu, walaupun diketuai oleh Bung Karno sendiri. Dari situ pula Bung Karno diangkat jadi presiden dan Bung Hatta sebagai wakil presiden. Jadi negara ini yang memberi kesempatan proklamasi seperti itu adalah ulama,” jelas Prof Ahmad Mansur Suyanegara.

Masih di soal peran dan kontribusi ulama. Pada 22/10/2005 http://www.nu.or.id menurunkan tulisan A Khoirul Anam berjudul Resolusi Jihad. Bahwa, pada 21-22/10/1945, wakil-wakil dari cabang Nahdlatul Ulama (NU) di seluruh Jawa dan Madura berkumpul di Surabaya. Di bawah pimpinan langsung Rois Akbar NU Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari dideklarasikanlah perang kemerdekaan sebagai perang suci alias jihad. Belakangan deklarasi itu populer dengan sebutan Resolusi Jihad. “Segera setelah itu, ribuan kiai dan santri bergerak ke Surabaya. Dua minggu kemudian, tepatnya 10 November 1945, meletuslah peperangan sengit antara pasukan Inggris melawan para pahlawan pribumi yang siap gugur sebagai syahid. Inilah perang terbesar sepanjang sejarah Nusantara. Meski darah para pahlawan berceceran begitu mudahnya dan memerahi sepanjang Kota Surabaya selama tiga minggu, Inggris yang pemenang Perang Dunia II itu akhirnya kalah,” tulis A Khoirul Anam.
Terkait hal di atas itu, ada lagi yang sangat menarik. Bahwa sebelum pertempuran 10 November 1945 pecah, Bung Tomo berpidato heroik: “Dan, kita yakin Saudara-Saudara, pada akhirnya pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita, sebab Allah selalu berada di pihak yang benar”.

Jadi, sangat benar, jika bangsa ini –lewat pengaruh dan peran ulama- secara jujur mengakui bahwa kemerdekaan yang diperolehnya semata-mata karena “berkat rahmat Allah”. Paragraf ketiga Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 membuktikannya. Kita baca lagi, bahwa: “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya”.

Singkat kata, Bung Karno tak salah ketika mengatakan bahwa ulama sangat berpengaruh di balik terjadinya proklamasi kemerdekaan RI 17/08/2017. Bung Karno benar saat mendudukkan posisi ulama secara tepat di ‘pelataran’ Indonesia.

Siapa Berani
Lewat uraian ringkas di atas, maka, siapakah di antara kita yang kini (pura-pura?) lupa atas peran signifikan ulama di negeri ini, dulu dan kini? Siapa di antara kita yang kini memosisikan diri tak bersahabat dengan ulama? Terakhir, dalam hal memandang kedudukan dan peran strategis ulama di negeri ini, beranikah kita berbeda pendapat dengan Bung Karno? []

 

sumber : Inpasonline.com-

 


Pelajaran yang berharga bagi saya!!

Tulisan ini adalah pengalaman saya sendiri beberapa tahun yang lalu, setelah saya membaca dan menelaah berbagai kejadian dan pengalaman akhirnya saya menemukan sebuah kalimat mengenai Logika Terbalik. dalam sebuah buku saya menemukan arti dari kalimat itu bahwa Logika Terbalik artinya menjawab persoalan dengan cara merekayasa akibat dengan harapan mengubah sebab. maksud dari pengertian itu pastinya bingung bukan? oke misal saya ambil contoh dari ilmu psikologi.

Ilmu psikologi menyatakan bahwa kita akan bahagia ketika kita mendapatkan yang kita inginkan dan orang yang bahagia biasanya berbuat baik. Sekarang anda sedang tidak bahagia, maka logika biasa memberikan solusi kepada anda untuk mendapatkan apa yang anda inginkan dengan demikian anda akan bahagia. Berbeda dengan solusi yang diberikan logika terbalik. Karena orang bahagia bisanya berbuat baik, maka anda berbuat baik saja (walaupun anda sedang tidak bahagia) pasti nanti anda akan bahagia.

Saya pikir ini benar, karena saya sendiri pernah membuktikannya. Saya pernah mengajar disalah satu yayasan pendidikan. Waktu itu bagian saya mengajar, tapi rasanya malas sekali. Saya masuk kelas, lalu saya mengajar dengan asal-asalan pada hari itu. Anak-anak yang saya ajar juga demikian, karena melihat gurunya tidak semangat, merekapun merespon dengan tidak semangat juga (teori umum timbal balik).

Saya teringat kepada logika terbalik. Guru yang semangat biasanya ceria, responsif, bicara keras, menghibur dengan guyonan, dan aktraktif dalam mengajar. Akhirnya saya pura-pura seperti yang ceria, responsive, bicara dikeraskan, dan menceritakan kisah-kisah lucu ilmuan fisika. Hasilnya anak-anak menjadi semangat karena melihat gurunya semangat. Anda tahu apa yang menarik? yang tadinya saya pura-pura semangat, tiba-tiba saya jadi semangat betulan.

Sejak saat itulah saya selalu berusaha untuk semangat dan ceria, meski sama dengan orang lain masalah ada saja menghampiri, namun dengan cara menangguhkan kesedihan dan sedikit menyembunyikan hal-hal yang bisa menimbulkan turunnya mood saya, saya tetap berusaha sekuat tenaga agar terlihat senang dan menikmati hari-hari yang dijalani. Keep smiling brooo…



The Spirit of Success

Di sekolah kehidupan kita menyaksikan bahwa setiap manusia di dorong oleh suatu keinginan untuk maju, untuk bertumbuh, untuk berkembang, untuk meraih apa yang dipahaminya sebagai kesempurnaan atau kesuksesan hidup. Dorongan untuk mencapai kesempurnaan atau kesuksesan hidup itu saya sebut sebagai spirit keberhasilan (the spirit of success), karena hemat saya dorongan tersebut bersifat spiritual. Dan spirit keberhasilan itu ada dalam diri setiap anak manusia sebagai pertanda bahwa ia adalah mahluk spiritual, disamping tentu saja mahluk bio-sosio-psikologis.

Sejak kecil spirit keberhasilan ini sudah nampak jelas terlihat dalam diri anak-anak sejak balita. Kita bisa saksikan bagaimana anak-anak bicara tentang keinginannya, tentang cita-citanya, tentang masa depannya. Dan hampir tanpa mempertimbangkan latar belakang sosial ekonomi orangtuanya, anak-anak itu berbicara tentang hal-hal yang “besar”. Ada yang ingin jadi pilot, ada yang ingin jadi penyanyi terkenal, ada yang ingin jadi dokter, ada yang ingin jadi pengusaha kaya, ada yang ingin jadi insinyur, ada yang ingin jadi menteri, bahkan jadi presiden, dan sebagainya. Mereka ingin punya pakaian bagus, mainan yang banyak, rumah yang besar seperti istana, mobil yang serba bisa, bahkan pesawat udara, dan seterusnya. Mereka ingin menikah dengan puteri cantik atau pangeran tampan dari negeri seberang. Mereka berjanji akan membelikan orangtuanya sejumlah hal yang belum pernah dimiliki orangtuanya. Pergi ke bulan atau memetik bintang-bintang adalah soal-soal yang mereka anggap akan mampu mereka lakukan kelak, suatu hari nanti. Singkatnya, spirit keberhasilan telah mengembangkan daya imajinasi anak-anak balita sampai pada tingkat yang amat mempesona.

Namun spirit keberhasilan ini perlahan-lahan meredup dalam diri sebagian besar anak-anak yang beranjak remaja dan menjadi manusia dewasa. Mereka mulai menghadapi berbagai masalah dan kesulitan untuk mencapai apa yang mereka inginkan. Lingkungan di mana anak-anak itu dibesarkan, seolah-olah mengajarkan mereka untuk sekadar menyesuaikan diri dengan situasi yang ada, dan bukannya untuk berjuang mengaktualisasikan segenap potensi diri guna mengubah situasi yang ada agar menjadi lebih baik. Sedikitnya dukungan dari lingkungan hidup di sekitarnya, termasuk dan terutama orangtua dan pengajar di sekolah, telah membuat banyak anak-anak usia sekolah dasar belajar untuk merasa tak berdaya, tak yakin akan kemampuannya, dan tak boleh berpikir tentang sesuatu yang besar lagi. Perlahan tapi pasti, anak-anak yang merasa tak berdaya dan tak punya keyakinan diri itu mulai membuang jauh-jauh pikiran-pikiran besar dan cita-cita terbaiknya. Dan jika perasaan tak berdaya ini berkembang terus, maka pada gilirannya ia akan melahirkan orang-orang yang pesimis memandang masa depannya.

Untunglah tidak semua anak-anak kemudian kehilangan spirit keberhasilannya. Sebagian anak-anak, terutama yang terlatih dalam menghadapi berbagai kesulitan hidup di usia pra-remaja, tumbuh dan berkembang dengan cita-cita besar yang membara untuk mengubah situasi dan kondisi hidupnya. Mereka terus mencari cara untuk mencapai yang terbaik. Mereka—dan orang-orang yang mendampingi mereka—percaya bahwa keberhasilan hanya akan diraih oleh orang-orang yang berani menetapkan tujuan-tujuannya dan kemudian bekerja keras terus menerus sampai mereka mencapainya. Mereka meninjau kemajuannya pada setiap langkah, dan merayakan keberhasilan pada tahap-tahap tertentu. Untuk tujuan-tujuan yang belum tercapai, mereka menarik pelajaran dari seluruh proses yang telah dilalui, dan mencari cara lain untuk kembali memulai usaha ke arah itu. Mereka merasa yakin akan kemampuan mereka, dan keyakinan itu melahirkan gagasan-gagasan baru, gagasan-gagasan yang lebih besar, gagasan-gagasan yang membuat mereka bergairah dalam setiap langkah mereka. Mereka selalu melihat adanya harapan, dan karena itu mereka berkembang menjadi orang-orang yang optimis dalam menyongsong masa depan.

Jika setiap anak manusia yang dilahirkan di muka bumi ini memiliki spirit keberhasilan di dalam dirinya, lalu bagaimana kita menjelaskan kenyataan di atas? Mengapa sejumlah masalah, kesulitan, dan tantangan hidup membuat anak-anak tertentu bertumbuh menjadi orang-orang yang pesimis, sementara anak-anak yang lainnya berkembang menjadi pribadi-pribadi yang optimis dalam memandang masa depan mereka? Mengapa, ketika diperhadapkan pada masalah yang sama, kesulitan yang sama, tantangan yang sama, sejumlah orang bisa memberikan respons yang berbeda-beda? Manakah yang membuat seseorang itu bisa menjadi pesimis atau optimis, tingkat kesulitan yang dihadapinya ATAU cara ia merespons kesulitan-kesulitan tersebut?

Carol Dweck, peneliti dari University of Illinois menunjukkan bahwa anak-anak yang menganggap kesulitan sebagai sesuatu yang bersifat tetap [berkata pada dirinya “Saya bodoh”] belajar lebih sedikit dibanding dengan anak-anak yang menganggap penyebab-penyebab kesulitan sebagai hal yang sifatnya sementara ”Saya tidak mencoba dengan sungguh-sungguh”. Anak-anak yang merasa tidak berdaya memusatkan perhatian pada penyebab kegagalan—umumnya diri mereka sendiri—, sedangkan anak-anak yang berorientasi pada penguasaan materi memusatkan perhatiannya pada cara-cara untuk memperbaiki kegagalan. Anak-anak yang merasa tak berdaya, menghubungkan kegagalannya dengan kurangnya kemampuan (bersifat tetap), sementara rekan-rekan mereka mengaitkan kegagalannya dengan kurangnya usaha untuk itu (bersifat sementara).

Sejalan dengan penelitian Dweck, Martin Seligman dari University of Pennsylvania dan sejumlah peneliti lain di bidang psikologi kognitif dan pengembangan emosional, menegaskan bahwa yang menentukan pesimis atau optimisnya seseorang adalah pola respons-nya terhadap suatu keadaan yang dianggap sebagai kesulitan/masalah. Pola respons menunjukkan pada perilaku yang sudah menjadi kebiasaan sebagai hasil pembelajaran dalam waktu tertentu. Mereka yang menganggap kesulitan sebagai sesuatu yang bersifat permanen ”Ini tidak akan pernah berubah”, meluas menjadi ”Ini akan menghancurkan segala-galanya”, dan sangat pribadi ”Ini semua kesalahan saya”, menunjukkan pola respons yang pesimis. Mereka yang merespons kesulitan/masalah sebagai sesuatu yang bersifat sementara ”Ini akan berlalu/bisa diatasi”, terbatas (”Ini hanya dalam soal yang satu ini saja”), dan eksternal (”Ada sejumlah faktor yang menyebabkan hal ini”), menunjukkan respons yang optimis.

Lebih jauh, studi Seligman dan kawan-kawan menunjukkan bahwa mereka yang memiliki pola respons pesimis hampir selalu dikalahkan oleh mereka yang memiliki pola respons optimis. Agen asuransi yang optimis menjual lebih banyak polis dibanding agen-agen yang pesimis, sekalipun mereka sebenarnya memiliki potensi-potensi yang relatif setara bagusnya. Agen properti yang optimis menjual 250-320 persen lebih banyak dari agen properti yang pesimis. Studi-studi lanjutan menunjukan konsistensi hal tersebut. Pelajar yang optimis mengungguli pelajar yang pesimis. Manajer yang optimis mengungguli manajer yang pesimis. Tim-tim olahraga yang optimis menggungguli tim-tim olahraga yang pesimis. Rakyat cenderung memilih pemimpin yang menunjukkan optimisme ketimbang pesimisme. Bahkan terbukti pula bahwa mereka yang merespons kesulitan secara optimis memiliki usia hidup lebih panjang daripada mereka yang merespons secara pesimis.

Apa yang paling menarik dari studi-studi Seligman dan kawan-kawannya adalah bahwa rasa tak berdaya adalah hasil pembelajaran. Sebaliknya rasa percaya diri, percaya pada kemampuan untuk mengubah atau mengendalikan suatu keadaan, juga merupakan hasil pembelajaran. Cara seseorang menjelaskan suatu peristiwa kepada dirinya (self talk), atau cara seseorang merespons suatu peristiwa yang menimpa dirinya, entah itu respons yang pesimis atau pun respons yang optimis, adalah hasil pembelajaran pula. Artinya, karena semua itu merupakan pola respons yang dibiasakan lewat proses pembelajaran, maka ia bisa dihentikan dan diubah. Mereka yang sering merasa tak berdaya bisa mulai belajar untuk merasa berkemampuan. Mereka yang selama ini terbiasa memberikan respons yang pesimis, bisa mulai belajar untuk memberikan respons yang optimis. Sebab apa saja yang diperoleh dari hasil pembelajaran bisa dihentikan dan diubah unlearning, jika ia tidak mendatangkan kebaikan dan manfaat bagi kehidupan kita.

Sesungguhnya, rasa tak berdaya dan respons pesimis bukanlah faktor nasib, bukan faktor yang kita warisi secara genetika dari orangtua dan nenek moyang, bukan faktor permanen seperti sifat dasar yang tak bisa diubah. Demikian juga rasa berkemampuan, percaya diri, dan respons optimis bukanlah faktor keberuntungan, melainkan hasil pembiasaan yang bisa mulai kita pelajari tahap demi tahap. Dan belajar untuk percaya pada kemampuan diri, belajar untuk memberikan respons yang optimis terhadap kesulitan-kesulitan dalam hidup, adalah pelajaran yang penting dan semakin penting dalam konteks kehidupan masyarakat dewasa ini. Bukan saja karena kehidupan masyarakat dewasa ini memperhadapkan kita pada kesulitan-kesulitan yang makin berat dan kompleks, tetapi terlebih lagi karena hanya dengan rasa berdaya dan optimis kita bisa tetap menumbuhkan spirit keberhasilan dalam diri kita masing-masing. Rasa tak berdaya dan pola respons yang pesimis akan menganiaya spirit keberhasilan yang merupakan karunia ilahi dalam diri setiap kita. Dan jika spirit keberhasilan ini terus teraniaya, maka kita akan menjalani hidup yang jauh dari potensi diri kita yang sesungguhnya. Hal yang terakhir ini harus mati-matian kita hindari, bukan?

Cayooooo!

*) Tulisan ini adalah satu bab dari 29 bab dalam buku best-seller “Mindset   Therapy (Gramedia, 2010)”, karya ke-37 Andrias Harefa
*) Andrias Harefa, mindset therapist, penulis 38 buku best-seller; trainer/speaker coach berpengalaman 20 tahun; pendiri http://www.pembelajar.com

 


Berhentilah jadi gelas, Jadikan qalbumu jadi sebesar danau

Seorang guru sufi mendatangi seorang muridnya ketika wajahnya belakangan ini selalu tampak murung.

“Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah di dunia ini? Ke mana perginya wajah bersyukurmu?” sang Guru bertanya.
“Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya,” jawab sang murid muda.

Sang Guru terkekeh. “Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam.Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu.”

Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang diminta.

“Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu,” kata Sang Guru.
“Setelah itu coba kau minum airnya sedikit.”

Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air asin.

“Bagaimana rasanya?” tanya Sang Guru.
“Asin, dan perutku jadi mual,” jawab si murid dengan wajah yang masih meringis.

Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis keasinan.
“Sekarang kau ikut aku.” Sang Guru membawa muridnya ke danau di dekat tempat mereka. “Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau.”

Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah di hadapan mursyid, begitu pikirnya. “Sekarang, coba kau minum air danau itu,” kata Sang Guru sambil mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir danau.

Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, dan membawanya ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin dan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru bertanya kepadanya, “Bagaimana rasanya?”

“Segar, segar sekali,” kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan punggung tangannya. Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber air di atas sana. Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah. Dan sudah pasti, air danau ini juga menghilangkan rasa asin yang tersisa di mulutnya.

“Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?”
“Tidak sama sekali,” kata si murid sambil mengambil air dan meminumnya lagi. Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya, membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas.

“Nak,” kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum. “Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih. Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Allah, sesuai untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah.”

Si murid terdiam, mendengarkan.

“Tapi Nak, rasa `asin’ dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besarnya ‘qalbu’(hati) yang menampungnya. Jadi Nak, supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan qalbu dalam dadamu itu jadi sebesar danau.”

 

(From : Suluk – logsome)

 


carut marut bangsaku

Capek menyaksikan episode kekuasaan yang korup, pelecehan hukum di kalangan penegaknya, dan para pemimpin yang tidak bisa mengambil keputusan. Barangkali episode carut marut bangsa ini memang sedang dalam wujudnya yang paling kasat mata. Lelah, capek, frustrasi, dan melemahkan semangat kita.

Efek langsung yang nyata, apakah yang akan terjadi terhadap bangsa ini di masa depan? Imajinasi tentang masa depan bangsa, saat ini sudah merupakan hal yang langka, dan menjadi sekedar tontonan masyarakat Indonesia.

Sistem perekonomian nasional yang akrab dengan krisis. Hingga cita-cita keadilan sosial yang makin hari makin jauh dari harapan. Amat rumit dan melelahkan, terbayang pula bagaimana mengurai semua permasalahan di atas. Adakah jalan pintas bagi kerumitan ini?

Jawabannya adalah memang tidak ada. Periode carut marut, krisis kebangsaan, krisis lembaga negara, krisis kepemimpinan politik, ditambah krisis ekonomi yang telah dan sedang berlangsung harus dijalani. Sejarah bangsa-bangsa yang berusaha bangkit pasca kediktatoran atau kekuasaan monolitik, selalu harus melalui tahap super kompleksitas ini.

Jika merujuk pada kisah-kisah pewayangan Jawa yang banyak menceritakan jatuh bangunnya wangsa penguasa, periode carut marut seperti di Indonesia sekarang ini adalah Periode Panji saat sudah tidak ada lagi pahlawan. Tidak ada lagi patron yang hebat, tidak ada lagi tokoh politik pujaan, tidak ada lagi orang suci atau orang besar.

Dalam wayang periode panji, pertarungan politik menyebar di antara tokoh-tokoh lokal, wilayah-wilayah kecil, dengan berbagai permasalah yang beragam. Tapi dalam periode muncul pula sosok Satria Wirang atau pemimpin yang hanya peduli pada citra, hanya berkutat pada hal yang akan memperburuk citranya, yang hanya merasa malu karena takut reputasinya memburuk, dan tidak pernah yakin pada dirinya sendiri.

Ironis karena cerminan dari kisah itu sekarang ada di depan mata. Satu hal yang bisa diambil hikmah dari carut marut yang sedang terjadi adalah adanya kondisi yang memaksa banyak orang untuk belajar dan menjadi dewasa dalam melihat persoalan bangsa.

Melihat bahwa banyaknya rentetan kejadian tidak berdiri sendiri banyak hal yang mempengaruhinya. Setiap tindakan mempunyai sisi baik dan buruk. Suatu ide yang bagus tidak berarti mudah untuk diwujudkan dalam kenyataan. Seringkali dengan berusaha bekerja seadanya jauh lebih penting dari gagasan yang brilyan sekalipun. Mekanisme jatuh bangun, salah posisi, koreksi terus menerus, dan ruang terbuka bagi perbedaan pada akhirnya akan mampu membentuk sistem. Ya, Sistem yang tahan terhadap berbagai macam kompleksitas yang dimunculkan dalam masa carut marut bangsa. Mungkinkah dengan jalan REVOLUSI bisa menuntaskan kebobrokan system yang ada….??? Entahlah.

Menurut Aristoteles Negara adalah sebuah asosiasi beradab. Dimana bertujuan untuk mengembangkan kebaikan bersama. Pemerintahanlah yang melaksanakan tujuan moral negara secara normal dan real, dan dengan tidak mengerjakan perbuatan sesat dan korup. Namun, tatkala para penguasa menjalankan roda pemerintahan, demi memuaskan nafsunya belaka, maka mereka bukanlah para penguasa yang real atau normal, akan tetapi orang – orang yang sesat.

Dalam demokrasi ada prinsip yang harus kita pegang bahwa sebagai warga Negara yang baik harus memiliki kemampuan menilai, seperti apakah pemerintah yang sedang berkuasa, apakah layak didukung kembali atau harus diganti pada pemilu yang akan datang? Andalah yang menentukan. * <hendi ms>

 

 


Pesan bagi pemimpin

Seorang raja yang sudah memasuki usia senja sedang mempersiapkan putranya agar suatu ketika kelak dapat menggantikan dirinya. Ia mengirim putranya pada seorang bijak untuk belajar mengenai kepemimpinan. Setelah menempuh perjalanan panjang, bertemulah putra mahkota ini dengan si orang bijak. ”Aku ingin belajar padamu cara memimpin bangsaku,” katanya. Orang bijak menjawab, ”Masuklah engkau ke dalam hutan dan tinggallah disana selama setahun. Engkau akan belajar mengenai kepemimpinan.”

Setahun berlalu. Kembalilah putra mahkota ini menemui si orang bijak. ”Apa yang sudah kau pelajari?” tanya orang bijak. ”Saya sudah belajar bahwa inti kepemimpinan adalah mendengarkan,” jawabnya. ”Lantas, apa saja yang sudah engkau dengarkan?” ”Saya sudah mendengarkan bagaimana burung-burung berkicau, air mengalir, angin berhembus dan serigala melonglong di malam hari,” jawabnya. ”Kalau hanya itu yang engkau dengarkan berarti engkau belum memahami arti kepemimpinan. Kembalilah ke hutan dan tinggallah disana satu tahun lagi,” kata si orang bijak.

Walaupun penuh keheranan, putra mahkota ini kembali mengikuti saran tersebut. Setahun berlalu dan kembalilah ia pada si orang bijak. ”Apa yang sudah kau pelajari,” tanya orang bijak. ”Saya sudah mendengarkan suara matahari memanasi bumi, suara bunga-bunga yang mekar merekah serta suara rumput yang menyerap air. ”Kalau begitu engkau sekarang sudah siap menggantikan ayahmu. Engkau sudah memahami hakekat kepemimpinan,” kata si orang bijak seraya memeluk sang putra mahkota.

Syarat utama kepemimpinan adalah kemampuan mendengarkan. Manusia diciptakan dengan dua telinga dan satu mulut. Ini adalah isyarat bahwa kita perlu mendengar dua kali sebelum berbicara satu kali. Mulut juga didisain tertutup sementara telinga kita dibuat terbuka. Ini juga pertanda bahwa kita perlu lebih sering menutup mulut dan membuka telinga.
Prinsip dasar inilah yang sebetulnya perlu dipahami oleh seorang pemimpin dimana pun ia berada, apakah ia memimpin negara, perusahaan, organisasi, rumah tangga maupun diri sendiri. Semua masalah yang terjadi di dunia ini senantiasa bermula dari satu hal: Kita terlalu banyak bicara tapi kurang mau mendengarkan orang lain. Kita memiliki terlalu banyak statement (pernyataan), tetapi terlalu sedikit statesman (negarawan) yang ditandai dengan kemauan untuk mendengarkan pihak lain.

Tetapi, mendengarkan dengan telinga sebenarnya baru merupakan tingkat pertama mendengarkan. Seperti yang ditunjukkan dalam cerita di atas, seorang pemimpin bahkan dituntut untuk dapat mendengarkan hal-hal yang tak bisa didengarkan, menangkap hal-hal yang tak dapat ditangkap, serta merasakan hal-hal yang tak dapat dirasakan oleh orang kebanyakan. Seorang pemimpin perlu mendengarkan dengan mata. Inilah tingkat kedua mendengarkan. Dalam proses komunikasi ada banyak hal yang tidak dikatakan tapi sering ditunjukkan dengan tingkah laku dan bahasa tubuh. Orang mungkin mengatakan tidak keberatan memenuhi permintaan Anda, tapi bahasa tubuhnya menunjukkan hal yang sebaliknya.  Seorang karyawan yang merasa gajinya terlalu rendah mungkin tidak menyampaikan keluhannya dalam bentuk kata-kata tetapi dalam bentuk perbuatan. Seorang yang merasa bosan dengan lawan bicaranya juga sering menunjukkan kebosanan itu lewat gerakan tubuhnya. Nah, kalau Anda tidak dapat menangkap tanda-tanda ini, Anda belum memiliki kepekaan yang diperlukan sebagai pemimpin.

Tingkat ketiga adalah mendengarkan dengan hati. Inilah tingkat mendengarkan yang tertinggi. Penyair Kahlil Gibran menggambarkan hal ini dengan mengatakan: ”Adalah baik untuk memberi jika diminta, tetapi jauh lebih baik bila kita memberi tanpa diminta.” Kita memberikan sesuatu kepada orang lain karena penghayatan, rasa empati dan kepekaan kita akan kebutuhan orang lain. Disini orang tak perlu mengatakan atau menunjukkan apapun. Kitalah yang langsung dapat menangkap apa yang menjadi kebutuhannya. Komunikasi berlangsung dari hati ke hati dengan menggunakan ”kecepatan cahaya”.
Sayang, amat jarang pemimpin di Indonesia yang memiliki kepekaan ini. Jangankan di level ketiga, untuk sampai ke level pertama yaitu mendengarkan dengan telinga saja masih banyak yang belum mampu. Lihatlah apa yang terjadi pada masyarakat kita. Berbagai bencana yang dialami masyarakat, mulai dari banjir, gempa bumi, flu burung, hingga demam berdarah tidak ditanggapi pemerintah dengan serius.

Bahkan himbauan dari berbagai kelompok masyarakat kepada para politisi tertentu agar tidak mencalonkan diri karena tergolong politisi busuk dan pelaku KKN dianggap sebagai angin lalu. Orang-orang ini – bahkan yang sudah terbukti tidak mampu sekalipun – masih ngotot mencalonkan dirinya sebagai presiden. Karena itu, marilah kita berdoa agar negara ini tidak lagi dipimpin oleh orang yang ”tuli”, ”bisu” dan ”buta”. Apalagi oleh orang yang ”buta” hati nuraninya dan hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri.

Dikutip dari tulisannyaBang Arvan Pradiansyah, penulis buku You Are A Leader!