Puasa dan Pembangunan Insan Beradab

Puasa (siyam) secara etimologi bermakna; bertahan atau mencegah. Sedangkan secara terminologis syariah, yang dimaksud puasa adalah menahan diri dari makan, minum, dan dari hal-hal yang membatalkannya sejak terbit fajar hingga terbenam matahari dengan niat ibadah kepada Allah Swt. Menahan dan mencegah di sini maksudnya, menahan hawa nafsu. Jadi, inti puasa itu ‘berperang’. Objek yang ditaklukan adalah hawa nafsu.

Karena itu, makna hakikat puasa adalah melingkup dzahir dan batin. Tidak hanya menahan makan-minum, namun juga menahan hati dan anggota tubuh dari dosa (melihat dan mendengar sesuatu yang haram, berbohong, ghibah, adu-domba dan lain-lain). Sebab, dosa hati tersebut menyebabkan gugurnya pahala puasa. Bahkan, di antaranya meninggalkan sesuatu yang makruh. Imam al-Ghazali mengatakan, hakikat puasa merupakan amal dalam batin yang memerlukan kesabaran murni (Muhammad Jamaluddin al-Qasimi,Mauidzatul Mu’minin min Ihya’ Ulumi al-Din, hal. 58).

Jadi, puasa mengandung fungsi ganda; mendidik dzahir manusia sekaligus batinnya. Amalannya dengan mengendalikan nafsu. Nafsu perlu ditaklukan karena mengandung kekuatan amarah dan syahwat yang terdapat pada diri manusia. Nafsu tidak bisa ‘dibunuh’, karena itu bagian dari diri manusia. Namun nafsu perlu dikendalikan.

Mengendalikan nafsu dilakukan dengan mempersempit dan membatasi jalannya. JIka nafsu mengajak untuk merasakan senangnya maksiat maka perlawanan dilakukan dengan nikmatnya menjalani ibadah. Bila nafsu mengajak ghibah, maka nafsu harus ditarik dengan menyibukkan lisan dengan dzikir kepada Allah Swt.

Nafs yang mengajak kepada keburukan dinamakan nafs hayawaniyah sedangkan nafs yang mengajak kepada kebaikan dinamakan nafs aqliyah. Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas membagi jiwa menjadi dua. Pertama, jiwa aqli (al-nafs al-natiqah). Kedua, jiwa hayawani (al-nafs al-hayawaniyyah). Menurutnya, adab terhadap diri adalah jika jiwa aqli mampu mengendalikan jiwa hayawani sehigga tunduk dalam kekuasaannya. Artinya meletakkan jiwa aqli dan jiwa hayawani pada tempatnya yang wajar (Syed Muhammad Naquib al-Attas,Tinjauan Ringkas Peri Ilmu dan Pandangan Alam, hal.43). Sebab, jiwa aqli lebih tinggi kedudukannya daripada jiwa hayawani.

Jiwa hayawani lebih tunduk kepada perintah setan. Mengajak untuk menentang Tuhan-nya. Karena itu, manusia yang tidak merasa berat menghina Allah, menghina Rasul-Nya dan agama Islam adalah manusia yang cacat jiwanya. Disebabkan jiwa hewani menguasainya. Sedangkan jiwa aqlinya mati.

Jika jiwa aqli yang menguasai jiwa hayawani, maka jiwa tersebut menjadi jiwa Islami. Jiwa yang tunduk kepada aturan-aturan Allah Swt. Inilah yang disebut al-nafs al-muthmainnah (jiwa yang tenang). Yaitu jiwa yang jika melaksanakan ketaatan dan ibadah dia akan merasakan ketenangan jiwa. Sebaliknya, jiwa ini tidak tertarik lagi untuk memenuhi dorongan syahwat setan.

Perjuangan jiwa aqli untuk menguasai jiwa hewani ini disebut mujahadah. Aktivitasnya disebut tazkiyatun nafs (pembersihan jiwa). Membersihkan nafs dari jiwa-jiwa hewani.

Al-Haris al-Muhasibi menggambarkan, “JIka kau mampu memutuskan syahwat nafsu dunia, maka akalmu akan mampu mengalahkan berbagai ambisi nafsu. Artinya kau kembalikan nafsu kepada akhirat. Karena nafsu hewani itu tumbuh kembang di dalam sifat ketamakan” (Al-Muhasibi,Adab al-Nufus, hal. 39).

Syed Al-Attas, sebagaimana dikutip oleh Adian Husaini, mendorong proses tazkiyatun nafs agar diri manusia menjadi beradab dengan mendudukan potensi aqliyahnya sebagai pengendali potensi hayawaniyah-nya (Adian Husaini,Mewujudkan Indonesia Adil dan Beradab,hal. 121).

Jiwa dan pikiran yang Islami -yaitu yang bersih- selalu patuh dan tunduk kepada syariat Allah Swt, beradab, bermoral dan terbebas dari kekuasaan nafsu untuk membenci agama. Jiwa dan pikiran yang patuh kepada-Nya terisi nilai-nilai suci, tiada nilai lain kecuali nilai Islam dan kebenaran.

Dengan demikian, tazkiyatun nafs maknanya bukan sekedar membersihkan diri manusia dari sifat-sifat sombong, hasud, dengki, dan lain-lain, akan tetapi hakikat tazkiyatun nafs adalah membebaskan diri manusia dari ketundukan dan kepatuhan terhadap ketidak-adilan jiwa yang condong kepada duniawi dan pikiran materialisme.
Amalan ini dapat disebut adab terhadap diri. Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud mengatakan:

“Adab terhadap diri seseorang dimulai apabila seseorang mengakui dwi-hakikatnya, yakni al-nafs al-natiqah (rational soul) dan al-nafs al-hayawaniyyah (animal soul). Apabila yang pertama (al-nafs al-natiqah) menaklukkan yang kedua (al-nafs al-hayawaniyyah) dan menjadikannya berada dalam kendalinya, maka seseorang telah menempatkan keduanya di tempat yang wajar, sehingga ia telah menempatkan dirinya di tempat yang benar. Keadaan demikian dinamakan keadilan (adl) pada diri insan dan lawannya ialah kezaliman” (zulm al-nafs) (Wan Mohd Nor Wan Daud,Peranan University Pengislaman Ilmu Semasa, Penafibaratan dan Penafijajahan, hal. 80).

Maka, seseorang yang berhasil menjadikan jiwa aqli nya sebagai pengendali jiwa hewani-nya maka ia telah menjadi insan adabi. Prof. Al-Attas menjelaskan sifat dari insan adabi ini: “Seseorang yang secara jujur menyadari akan tanggungjawabnya kepada Allah Swt; yang memahami dan memenuhi segala kewajiban untuk dirinya dan orang lain di dalam masyarakat secara adil; dan yang senantiasa berusaha memperbaiki segala aspek dalam dirinya agar mencapai kesempurnaan sebagai seseorang yang beradab” (Wan Mohd Nor Wan Daud,Peranan University Pengislaman Ilmu Semasa, Penafibaratan dan Penafijajahan, hal. 77).

Insan adabi merupakan orang-orang beriman yang memiliki pandangan berbeda dengan orang kafir dan sekular dalam melihat realitas wujud. Pandangan dan pikiran insan adabi ini tidak hanya berhenti pada aspek materi dan dunia ini saja. Sehingga, ia menempatkan Tuhan Allah Swt sebagai realitas tertinggi. Ia tidak merasa hebat dan merasa pintar dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Tidak merasa berhak mengatur Tuhannya. Kesetiannya pada Tuhan berada paling tinggi dari pada kesetiaan kepada makhluk.

Jika kita percaya bahwa Allah Swt itu wujud, maka sangat mungkin kita percaya bahwa di sana ada arti dan tujuan hidup. Dan jika kita konsisten, kita akan percaya bahwa sumber nilai moral bukanlah berdasarkan kesepakatan manusia tapi merujuk kepada kehendak Allah Swt dan Allah merupakan nilai tertinggi.
Karena itu, ia adalah orang yang bertakwa dengan sebenarnya. Dalam al-Qur’an, manusia bertakwa itu manusia yang paling mulia (QS. 49:13). Jadi, orang bertakwa itu adalah orang mukmin yang kondisi pikiran dan jiwanya merasakan kehadiran Allah Swt di mana saja ia berada.

Karena itu, sudah selayaknya umat Islam menjadikan takwa sebagai standar kemajuan suatu masyarakat. Karena di saat orang itu bertakwa, maka jiwanya rasional. Bukan berjiwa hewani. Tentu saja semua sepakat bahwa yang memiliki akal adalah manusia bukan hewan, dan manusia lebih mulia daripada hewan.

Standar suatu masyarakat itu maju bukan dilihat dari aspek materi. Gedung-gedung pencakar langit yang indah, jalananan yang rapi, pendapatan per-bulan tinggi bukan disebut maju bila penghuninya manusia-manusia yang jiwanya masih hayawaniyah. Karena itu, untuk melahirkan masyarakat yang baik, perlu perbaikan jiwa individu melalui pendidikan yang tepat.

Pemikiran materialisme – yang menjadikan kebendaan sebagai ukuran segalanya –tidak relevan sebagai standar kemajuan suatu masyarakat. Sebab, pembangunan manusia yang lebih utama adalah dari jiwanya, bukan raganya. Bisa jadi raga sehat, tetapi jiwa nya sakit. Tetapi, bila raga ada yang sakit, jiwa-nya masih sehat, maka manusia masih mampu menjadi insan adabi.

 

Sumber : Inpasonline.com-

 

Advertisements

Ulama, Indonesia dan Bung Karno

Tema pergerakan umat Islam di hari-hari terakhir ini tampak sedikit ‘bergeser’ pada titik tekannya. Jika sebelumnya lantang digelorakan “Aksi Bela Islam”, maka kini yang tegas disuarakan adalah “Aksi Bela Ulama”. Di sejumlah kota, berbagai “Aksi Bela Ulama” digelar. Sementara, di Jakarta, aksi serupa dilaknakan pada 11/02/2017. Terkait ini, menarik jika kita kuak: Mengapa ulama harus kita bela dan apa pula kata Bung Karno tentang ulama?

Kata BK
“Aksi Bela Islam” berbuah “Aksi Bela Ulama”. Pada yang pertama, aksi dilakukan untuk mendorong aparat yang berwenang agar menangani Kasus Penistaan Agama yang dilakukan Ahok berjalan sebagaimana mestinya. Sementara, pada yang kedua, aksi dilakukan karena ada gelagat bahwa tokoh-tokoh kunci penggerak Aksi Bela Islam yang tergabung di dalam Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) ‘dipersulit posisinya’. Keadaan seperti yang disebut terakhir itu lazim disebut sebagai kriminalisasi ulama.

Bersamaan dengan bergulirnya masalah itu, beredar pula wacana Sertifikasi Ulama. Wacana ini, sontak ditolak oleh banyak kalangan. Wajar jika wacana ini tak popular. Pertama, sertifikasi ulama bisa membuat dakwah tak bergairah. Misal, ada figur yang potensial tapi dia tidak berkenan untuk disertifikasi karena menilai hal itu sebagai sesuatu yang tak berdasar. Atau, ada yang mau disertifikasi, tapi dipersulit proses sertifikasinya karena –misalnya- ‘performa’-nya tak seperti yang diidealkan Si “Penerbit Sertifikat”. Akibat dari dua keadaan tersebut sama-sama tidak baik. Hal itu akan merugikan umat Islam karena mereka tidak akan bisa lagi mendapatkan dakwah atau pencerahan yang bergizi.

Kedua, sertifikasi ulama bisa saja menjadi media bagi sebuah keinginan untuk membatasi kehidupan dakwah. Kekhawatiran ini mungkin saja terjadi jika ada ulama / da’i yang isi dakwahnya dinilai berada di luar selera Si “Penentu Kebijakan”, maka dia tak akan mendapatkan sertifikat yang dimaksud.
Melihat perkembangan ini banyak yang bersedih. Negeri ini seperti lupa kepada pihak-pihak yang turut melahirkan dan membesarkannya. Untuk itu, ada baiknya kita baca ulang pendapat Bung Karno di soal peran ulama terhadap negeri ini.

Atas proklamasi kemerdekaan RI 17/08/1945, Bung Karno mengakui kontribusi yang sangat besar dari ulama, dengan mengatakan bahwa dirinya “Kalau tanpa dukungan ulama tidak akan berani.” Fragmen itu diterangkan sejarawan Prof. Ahmad Mansur Suyanegara di http://www.eramuslim.com 16/09/2007. Tentu saja, hal tersebut mudah kita mengerti karena kekuatan militer dari umat Islam saat itu luar biasa besar (di samping –tentu saja- semangat jihadnya yang tinggi di bawah bimbingan dan komando ulama).

Adakah informasi menarik yang lain soal peran ulama? Pada 18/08/1945, yang merumuskan Pancasila itu tiga orang, “Yakni, KH Wahid Hasyim dari NU, Ki Bagus Hadi Kusumo dari Muhammadiyah, dan Kasman Singodimedjo juga dari Muhammadiyah. Mereka itulah yang membuat kesimpulan Pancasila itu sebagai ideologi, UUD 1945 sebagai konstitusi. Kalau tidak ada mereka, BPUPKI tidak akan mampu, walaupun diketuai oleh Bung Karno sendiri. Dari situ pula Bung Karno diangkat jadi presiden dan Bung Hatta sebagai wakil presiden. Jadi negara ini yang memberi kesempatan proklamasi seperti itu adalah ulama,” jelas Prof Ahmad Mansur Suyanegara.

Masih di soal peran dan kontribusi ulama. Pada 22/10/2005 http://www.nu.or.id menurunkan tulisan A Khoirul Anam berjudul Resolusi Jihad. Bahwa, pada 21-22/10/1945, wakil-wakil dari cabang Nahdlatul Ulama (NU) di seluruh Jawa dan Madura berkumpul di Surabaya. Di bawah pimpinan langsung Rois Akbar NU Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari dideklarasikanlah perang kemerdekaan sebagai perang suci alias jihad. Belakangan deklarasi itu populer dengan sebutan Resolusi Jihad. “Segera setelah itu, ribuan kiai dan santri bergerak ke Surabaya. Dua minggu kemudian, tepatnya 10 November 1945, meletuslah peperangan sengit antara pasukan Inggris melawan para pahlawan pribumi yang siap gugur sebagai syahid. Inilah perang terbesar sepanjang sejarah Nusantara. Meski darah para pahlawan berceceran begitu mudahnya dan memerahi sepanjang Kota Surabaya selama tiga minggu, Inggris yang pemenang Perang Dunia II itu akhirnya kalah,” tulis A Khoirul Anam.
Terkait hal di atas itu, ada lagi yang sangat menarik. Bahwa sebelum pertempuran 10 November 1945 pecah, Bung Tomo berpidato heroik: “Dan, kita yakin Saudara-Saudara, pada akhirnya pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita, sebab Allah selalu berada di pihak yang benar”.

Jadi, sangat benar, jika bangsa ini –lewat pengaruh dan peran ulama- secara jujur mengakui bahwa kemerdekaan yang diperolehnya semata-mata karena “berkat rahmat Allah”. Paragraf ketiga Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 membuktikannya. Kita baca lagi, bahwa: “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya”.

Singkat kata, Bung Karno tak salah ketika mengatakan bahwa ulama sangat berpengaruh di balik terjadinya proklamasi kemerdekaan RI 17/08/2017. Bung Karno benar saat mendudukkan posisi ulama secara tepat di ‘pelataran’ Indonesia.

Siapa Berani
Lewat uraian ringkas di atas, maka, siapakah di antara kita yang kini (pura-pura?) lupa atas peran signifikan ulama di negeri ini, dulu dan kini? Siapa di antara kita yang kini memosisikan diri tak bersahabat dengan ulama? Terakhir, dalam hal memandang kedudukan dan peran strategis ulama di negeri ini, beranikah kita berbeda pendapat dengan Bung Karno? []

 

sumber : Inpasonline.com-

 


Globalisasi: Sebuah Arus Budaya Instan

Memasuki periode ilmu (dalam bahasa Kuntowijoyo), umat Islam dihadapkan dengan dinamika kehidupan yang serba cepat (speed). Dengan prestasi manusia dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi (terutama informasi), akselerasi perubahan dunia menjadi tidak terbayangkan seperti sebelumnya. Semua proyek besar dunia yang dikuasai oleh kapitalisme global, begitu mudah menuai keberhasilan. Melalui korporasi multinasional yang menjamah hampir seluruh pelosok bumi ini, nyaris tidak ada sisi kehidupan umat yang tidak terimbas olehnya.

Tanpa sadar, angan-angan umat tentang globalisasi sebagai konsekuensi logis dari perkembangan teknologi informasi, menjadi sebuah keniscayaan. Globalisasi seperti sebuah gerak alamiah (sunatullah), yang diciptakan Tuhan, tanpa campur tangan manusia. Ini terjadi, karena globalisasi telah menyebabkan tata aturan (hukum) dunia seperti tidak berlaku lagi. Semua budaya boleh memasuki semua tempat di dunia ini dari segala penjuru arah, tanpa filter yang kuat dari umat. Tanpa peduli terhadap kesesuaiaan dan keserasian budaya asli (local). Selain itu, faktor individu manusia sebagai pencipta ilmu dan teknologi yang telah menyebabkan munculnya globalisasi, juga sangat menentukan akselerasi pertumbuhan globalisasi. Struktur kesadaran individu umat hampir tidak memiliki penolakan terhadap realitas yang terjadi di luar dirinya.

Persoalan yang terakhir ini, menurut Herbert Marcuse disebut sebagai “desublimasi represif”. [1] Semua tampilan yang terlihat dalam kehidupan sehari-hari adalah merupakan pemakluman-pemakluman, sofistikasi moralitas brutal, atau estetisasi nilai-nilai etis. Umat telah kehilangan kekuatan untuk menolak segala sesuatu yang menimpa kehidupannya, baik secara langsung maupun tidak langsung. Perluasan-perluasan budaya yang dilakukan kapitalisme menjadi identik dengan kehidupan umat sendiri, sehingga terjadi taklid membuta terhadap budaya kapitalisme itu. Setiap usaha yang dilakukan umat untuk membongkar (mendekonstruksi) budaya kapitalisme, justru mambantu mempermudah kapitalisme merekonstruksi diri. Kritik terhadap kapitalisme menjelma menjadi eksistensi kapitalisme itu sendiri.

Memandang kepasifan manusia modern yang nyaris tanpa perasaan ini, Erich Fromm berkata bahwa manusia (masyarakat) modern saat ini telah dimesinkan secara total, dicurahkan untuk meningkatkan produksi dan konsumsi material, dan diarahkan oleh mesin-mesin (komputer).[2] Masyarakat dalam proses sosial semacam ini menjadi bagian dari produksi budaya yang dihasilkan oleh mesin-mesin yang diciptakannya sendiri. Manusia melahirkan sistem sosialnya sendiri, tetapi begitu tercipta, ia kehilangan kontrol terhadap sistem tersebut, bahkan berbatik terkontrol oleh sistem.

Dalam pandangan Peter L. Berger, manusia menciptakan masyarakat (beserta sistem sosialnya), dan berbalik masyarakat menciptakan individu.[3] Masyarakat global memaksa individu umat mengikuti keputusan-keputusan yang dibuat dalam kerangka memproduksi budaya global. Umat kehilangan kontrol, dan menjadi terkontrol oleh sistem produksi yang disesuaikan dengan pasar. Kondisi umat semakin terpuruk karena dipaksa berproduksi dan mengkonsumsi tanpa tahu untuk apa dan mengapa.

Dengan demikian, umat tidak bisa menyatakan diri sebagai manusia yang benar-benar bebas dalam arti sebenarnya. Ini disebabkan oleh globalisasi yang membuat jurang pemisah antara negara maju dan negara miskin, semakin lebar. Globalisasi juga mempertegas identitas individu dan sosial, sehingga mempengaruhi aksebilitas individu atau kelompok dalam masyarakat global. Walaupun bermunculan identitas lokal, namun keberadaan pusat tetap memegang kendali kekuasaan dalam segala bidang kekuasaan. Globalisasi tidak menghapuskan hierarki, namun sebaliknya mengemas diri menjadi ketergantungan baru dengan standarisasi yang ditentukan aktor-aktor di pusat kekuasaan. Oleh karena itu, tidak lain globalisasi adalah sofistikasi imeprialisme dalam skala dunia. Semua lini kehidupan dipenuhi dengan dominasi, hegemoni, dan belenggu struktur kekuasaan kapitalisme.

Di tengah realitas yang “menggila” dan tak bermakna ini, produksi-produksi budaya lokal umat yang masih berjalan dengan setitik kesadaran etis, hanya seperti debu-debu jalanan yang beterbangan kesana-kemari tanpa pernah dapat sebuah pengakuan. Alih-alih mendapatkan ruang yang menunjukkan sebuah eksistensial, sebaliknya siap dimanfaatkan sebagai salah satu pendukung budaya kapitalisme dengan kemasan yang melenakan dan mempesona umat.

Perubahan dunia melejit dengan akselerasi tinggi. Orang hanya membutuhkan waktu beberapa detik untuk memperoleh informasi dari belahan dunia lain. Icon “klik” dalam istilah internet adalah kebanggaan dunia informasi.

Revolusi teknologi informasi membuat orang tidak perlu melakukan perjalanan jarak-jauh untuk mengetahui isi dunia. Hanya dengan duduk dan “klik”, kita sudah berwisata ke belahan dunia lain. Dunia tidak ubahnya sebuah “desa global” yang di dalamnya dihuni oleh manusia yang berinteraksi dengan menggunakan kecanggihan teknologi. Jarak-tempuh digantikan dengan selang-waktu. Perjalanan ke negara lain dengan transportasi yang menyita waktu, dapat di lakukan dengan teknologi informasi beberapa detik. Jarak-tempuh antar belahan dunia yang dipisahkan oleh luasnya Samudera, bukan menjadi masalah besar bagi manusia.

Catatan Kecil
[1] Herbert Marcuse, 1964, One Dimensional Man: Studies in the Ideology of Advenced Industrial Society, London, Routlege & Kegan Paul, hlm 3.
[2] Erich Fromm, 1996, Revolusi Harapan: Menuju Masyarakat Teknologi Yang Manusiawi, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, hlm. 1.
[3] Peter L. Berger, 1991, Langit Suci: Agama sebagai Realitas Sosial, alih bahasa: Hartono, Jakarta, LP3ES, hlm. 4.


Pendidikan Transformatif

MENGAPA peduli pada pendidikan? Banyak orang menyebut bahwa antara pendidikan dan perubahan sosial adalah dua hal yang saling terkait dan mempengaruhi. Suatu perubahan kiranya sulit akan terjadi tanpa diawali pendidikan, begitu pula pendidikan yang transformatif tak akan pula terwujud bila tidak didahului dengan perubahan, utamanya, paradigma yang mendasarinya. Bahkan, ada pula yang berpendapat bahwa menyebut perubahan sosial dan pendidikan yang transformatif ibarat menyebut sesuatu dalam satu tarikan nafas: pendidikan taranformatif adalah perubahan sosial dan perubahan sosial adalah pendidikan transformatif. Sungguhkah?

Perubahan sosial tentu membutuhkan aktor-aktor yang mempunyai pengetahuan, kemampuan, komitmen, serta kesadaran akan diri dan posisi strukturalnya. Untuk itu perlu tersedianya suatu media dimana ide-ide, nilai-nilai maupun ideologi, yang tentunya kontra ideologi hegemonik, ditransmisikan kepada para pelaku perubahan sosial.

Paulo Freire, pemikir dan aktivis Pendidikan Kritis, mempunyai pendapati cemerlang perihal pendidikan dan kaitannya dengan perubahan sosial1. Dalam bentuknya yang paling ideal, menurut Freire, pendidikan membangkitkan kesadaran (conscientizacao) diri manusia sebagai subjek. Dengan kesadaran sebagai subjek tersebut manusia dapat memerankan liberative action. Kesadaran ini secara komunal akhirnya membentuk kesadaran sosial. Dengan kesadaran sosial yang dibangun diatas basis relasi intersubjektif rakyat dapat memainkan peranan dalam rekonstruksi tatanan sosial baru yang lebih demokratis. Tatanan sosial yang demokratis ini menurutnya kondusif bagi humanisme dan pembebasan.

Beranjak dari pentingnya pendidikan diatas, tulisan ini disajikan dengan semangat untuk melakukan kritisasi terhadap dunia pendidikan, utamanya di Indonesia.

Potret Buram Pendidikan Indonesia
Alkisah, ada sekelompok siswa sebuah SMU di kota saya nongkrong di terminal bis, bolos sekolah. Tanpa beban mereka asyik bincang sembari menikmati riuh ramai kendaraan, penumpang, ataupun teriakan para kenek. Dari wajah mereka hampir tak tergurat raut penyesalan karena meninggalkan pelajaran, melanggar titah orang tua. Sepintas, masyarakat termasuk juga kita, mungkin akan berkata, “Dasar pemalas, tidak tahu menghargai jerih payah orangtua!”. Suatu hal yang lumrah tapi belum tentu benar.

Pernahkah Anda merasa betapa sekolah demikian membosankan atau bahkan menakutkan? Suatu ketika, di hari senin pada jam pertama, jantung Toni berdebar kencang. Ini disebabkan PR bahasa-nya yang belum juga selesai meski sudah tiga hari dikerjakan. Sejenak terbayang betapa akan malunya Ia terkena marah bapak guru di depan kelas. Sebenarnya, sejak minggu lalu Toni ingin bertanya tentang soal yang satu itu. Namun Ia takut, teman-teman sekelasnya akan menertawakan ketidaktahuannya. Akhirnya setiap ada pelajaran bahasa, ruangan kelas seolah menjadi tempat yang paling tidak aman baginya. Bahkan menjelma menjadi penjara.

Ilustrasi diatas bukan sebatas rekaan belaka. Diantara kita banyak yang pernah mengalami masalah semacam itu. Sekolah yang kita bayangkan sebagai ‘kabin’ belajar, bermain, berteman, mengembangkan potensi dst., malah menjadi sumber kesusahan dan kegelisahan. Ditambah lagi guru yang otoriter, metode pengajaran yang monoton dan membelenggu, tidak up to date, begini dilarang, begitu dilarang, dsb., kian membuat peserta didik tidak bebas mengembangkan potensi, dan akhirnya hanya menjadi pengikut semua ujar guru yang kurang kreatif sekaligus miskin daya kritis.

Kalau dilihat lebih cermat, pendidikan yang membelenggu itu merupakan tipikal sistem pendidikan negara jajahan. Sejak zaman kolonial Belanda, upaya-upaya yang mencegah tumbuhnya kecerdasan untuk berpikir bebas, daya kritis terhadap realitas, yang berujung pada kesadaran terhadap posisi diri di struktur sosial, memang di-setting secara sistematis. Tujuannya jelas yakni, menjaga agar masyarakat di Hindia Belanda tetap bodoh, tidak ‘sadar diri’ sehingga kekuasaan kolonial tidak terancam.

Sistem pendidikan dengan sendirinya menjadi instrumen untuk melanggengkan kekuasaan. Pendidikan hanya semata-mata memasukkan peserta didik kedalam sistem yang sudah ada: mencetak dokter, akuntan, teknisi, ahli hukum dst., yang loyal terhadap penguasa. Nilai-nilai, ide-ide, preferensi, yang ditransmisikan melalui institusi pendidikan dengan sendirinya ditujukan untuk membentuk kesadaran yang menafsirkan penindasan terhadapnya sebagai hal yang wajar, serta benar baik secara ideologis maupun kultural.

Sayangnya, model pendidikan seperti ini tetap berlangsung hingga sekarang. Dalam konteks kekinian dimana penjajahan tidak lagi menemui bentuknya yang paling primitif, pendidikan di Indonesia dan negara-negara dunia ketiga pada umumnya belum beranjak berubah.
Dewasa ini, tatkala Barat kembali hadir dengan kekuatan ekonominya, sistem pendidikan dengan sendirinya mengabdi pada kepentingan modal. Meski dibalut modernitas zaman yang kemilau dengan sains mutakhir hingga teknologi canggih, karakter pendidikan tetap stagnan. Visi dan misi pendidikan yang tercermin dalam kurikulum orientasinya cuma satu: bagaimana mencetak lulusan yang akseptabel terhadap pasar, baik skill maupun kesamaaan kerangka berpikir. Pendek kata, di era Kapitalisme berkuasa ini, nasib pendidikan tak jauh-jauh amat dari sebelumnya: membangun konformitas kesadaran peserta didik terhadap struktur yang sedang berlaku.

Tiga Paradigma Pendidikan
Secara konseptual, ada tiga paradigma3 pendidikan yang dapat memberi peta pemahaman mengenai paradigma apa yang menjadi pijakan penyelenggaraan pendidikan di Indonesia yang berdampak sangat serius terhadap perubahan sosial.

Pertama, paradigma konservatif. Paradigma ini berangkat dari asumsi bahwa ketidaksederajatan masyarakat merupakan suatu keharusan alami, mustahil bisa dihindari serta sudah merupakan ketentuan sejarah atau takdir Tuhan. Perubahan sosial bagi mereka bukanlah suatu yang harus diperjuangkan, karena perubahan hanya akan membuat manusia lebih sengsara saja. Pada dasarnya masyarakat tidak bisa merencanakan perubahan atau mempengarhui perubahan sosial, hanya Tuhan lah yang merencanakan keadaan masyarakat dan hanya dia yang tahu makna dibalik itu semua.

Dengan pandangan seperti itu, kaum konservatif tidak menganggap rakyat memiliki kekuatan atau kekuasaan untuk merubah kondisi mereka. Mereka yang menderita, yakni orang orang miskin, buta huruf, kaum tertindas dan mereka yang dipenjara, menjadi demikian karena salah mereka sendiri. Karena toh banyak orang yang bisa bekerja keras dan berhasil meraih sesuatu. Banyak orang bersekolah dan belajar untuk berperilaku baik dan oleh karenanya tidak dipenjara. Kaum miskin haruslah sabar dan belajar untuk menunggu sampai giliran mereka datang, karena akhirnya semua orang akan mencapai kebebasan dan kebahagiaan kelak. Paham konservatif hanya melihat pentingnya harmoni serta menghindarkan konflik dan kontradiksi.

Sebagian besar penyelenggaraan sekolah yang dikelola oleh kaum tradisionalis berangkat dari paradigma konservatif ini. Penyelenggaraan sekolah atau madrasah dalam perspektif dan paradigma konservatif memang terisolasi dari persoalan persoalan kelas maupun gender ataupun persoalan ketidak adilan di masyarakat. Kurikulum sekolah secara jelas bagi kaum konservatif juga tidak ada kaitannya dengan sistem dan struktur sosial diluar sekolah, seperti sistem kapitalisme yang tidak adil

Kedua paradigma pendidikan Liberal. Kaum Liberal, mengakui bahwa memang ada masalah di masyarakat. Namun bagi mereka pendidikan sama sekali steril dari persoalan politik dan ekonomi masyarakat. Tugas pendidikan cuma menyiapkan murid untuk masuk dalam sistem yang ada. Sistem diibaratkan sebuah tubuh manusia yang senantiasa berjalan harmonis dan penuh keteraturan (functionalism structural). Kalaupun terjadi distorsi maka yang perlu diperbaiki adalah individu yang menjadi bagian dari sistem dan bukan sistem.
Pendidikan dalam perspektif liberal menjadi sarana untuk mensosialisasikan dan mereproduksi nilai-nilai tata susila keyakinan dan nilai-nilai dasar agar stabil dan berfungsi secara baik dimasyarakat. Oleh karena itu masalah perbaikan dalam dunia pendidikan bagi mereka sebatas usaha reformasi ‘kosmetik’ seperti perlunya: membangun gedung baru, memoderenkan sekolah; komputerisasi; menyehatkan rasio murid-guru, metode pengajaran yang effisien seperti dynamics group, learning by doing, experimental learning dan sebagainya. Hal-hal tersebut terisolasi dengan struktur kelas dan gender dalam masyarakat.

Akar dari pendidikan semacam ini dapat ditelusuri dari pijakan filosofisnya yakni, paham liberalisme, suatu pandangan yang menekankan pengembangan kemampuan, melindungi hak, dan kebebasan (freedoms), demi menjaga stabilitas jangka panjang.

Yang terakhir adalah paradigma pendidikan kritis. Pendidikan bagi paradigma kritis merupakan arena perjuangan politik. Jika bagi kaum konservatif pendidikan bertujuan untuk menjaga status quo, sementara bagi kaum liberal ditujukan untuk perubahan moderat dan acapkali juga pro status quo, maka bagi penganut paradigma kritis menghendaki perubahan struktur secara fundamental dalam tatanan politik ekonomi masyarakat dimana pendidikan berada. Dalam perspektif ini, pendidikan harus mampu membuka wawasan dan cakrawala berpikir baik pendidik maupun peserta didik, menciptakan ruang bagi peserta didik untuk mengidentifikasi dan menganalisis secara bebas dan kritis diri dan struktur dunianya dalam rangka transformasi sosial.

Perspektif ini tentu mempunyai beberapa syarat. Baik guru maupun peserta didik mesti berada dalam posisi yang egaliter dan tidak saling mensubordinasi. Masing-masing pihak, mesti berangkat dari pemahaman bahwa masing-masing mempunyai pengalaman dan pengetahuan. Sehingga yang perlu dilakukan adalah dialog, saling menawarkan apa yang mereka mengerti dan bukan menghafal, menumpuk pengetahuan namun terasing dari realitas sosial (banking system).

Tiga paradigma diatas masing-masing membawa dampak berupa karakter kesadaran manusia yang oleh Freire digolongkan menjadi tiga yakni ;
Pertama kesadaran magis, yakni suatu kesadaran masyarakat yang tidak mampu mengetahui kaitan antara satu faktor dengan faktor lainnya. Misalnya saja masyarakat miskin yang tidak mampu melihat kaitan kemiskinan mereka dengan sistim politik dan kebudayaan. Kesadaran magis lebih melihat faktor diluar manusia (natural maupun supra natural) sebagai penyebab dan ketakberdayaan. Dalam dunia pendidikan, jika proses belajar mengajar tidak mampu melakukan analisis terhadap suatu masalah maka proses belajar mengajar tersebut dalam perspektif Freirean disebut sebagai pendidikan fatalistik. Proses pendidikan lebih merupakan proses menirukan, dimana murid mengikuti secara buta perkataan dan pendangan guru. Proses pendidikan model ini tidak memberikan kemampuan analisis, kaitan antara sistim dan struktur terhadap satu permasalahan masyarakat. Murid secara dogmatik menerima ‘kebenaran’ dari guru, tanpa ada mekanisme untuk memahami ‘makna’ ideologi dari setiap konsepsi atas kehidupan masyarakat. Paradigma tradisional yang menggunakan paham pendidikan dan sekolah konservatif dapat dikatagorikan dalam kesadaran magis ini.

Kesadaran kedua adalah kesadaran naif. Keadaan yang di katagorikan dalam kesadaran ini adalah lebih melihat ‘aspek manusia’ menjadi akar penyebab masalah masyarakat. Dalam kesadaran ini ‘masalah etika, kreativitas, ‘need for achievement’ dianggap sebagai penentu perubahan sosial. Jadi dalam menganalisis mengapa suatu masyarakat miskin, bagi mereka disebabkan karena ‘salah’ masyarakat sendiri, yakni mereka malas, tidak memiliki kewiraswataan, atau tidak memiliki budaya ‘membangunan’, dan seterusnya. Oleh karena itu ‘man power development’ adalah sesuatu yang diharapkan akan menjadi pemicu perubahan. Pendidikan dalam konteks ini juga tidak mempertanyakan sistem dan struktur, bahkan sistem dan struktur yang ada adalah sudah baik dan benar, merupakan faktor ‘given’; dan oleh sebab itu tidak perlu dipertanyakan. Tugas sekolah adalah bagaimana membuat dan mengarahkan agar murid bisa masuk beradaptasi dengan sistem yang sudah benar tersebut. Paradigma umat modernis yang menggunakan paham pendidikan liberal dapat dikatagorikan kedalam kesadaran naif ini.

Kesadaran ketiga disebut sebagai kesadaran Kritis. Kesadaran ini lebih melihat aspek sistem dan struktur sebagai sumber masalah. Pendekatan struktural menghindari ‘blaming the victims” dan lebih menganalisis untuk secara kritis menyadari struktur dan sistim sosial, politik, ekonomi dan budaya dan akibatnya pada keadaaan masyarakat. Paradigma kritis dalam pendidikan, melatih murid untuk mampu mengidentifikasi ‘ketidakadilan’ dalam sistim dan struktur yang ada, kemudian mampu melakukan analisis bagaimana sistim dan struktur itu bekerja, serta bagaimana mentransformasikannya. Tugas pendidikan dalam paradigma kritis adalah menciptakan ruang dan keselamatan agar peserta pendidikan terlibat dalam suatu proses penciptaan struktur yang secara fundamental baru dan lebih baik. Paradigma umat Islam transformatif yang menggunakan model pendidikan kritis dapat dikategorikan kedalam kesadaran kritis.


Menjaga mutiara tetap berkilau

Dalam Pasal 4 UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan bahwa pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa.

Sekarang ini, pengaruh lingkungan sangat menentukan kepribadian seorang anak. Lingkungan yang baik dan sehat akan menumbuhkembangkan integritas anak menjadi baik dan sehat pula, namun bila sebaliknya anak akan tumbuh dengan emosi dan pikiran serta prilaku moral yang tidak sehat. Hal ini diakibatkan kegagalan orang tua dan orang disekitarnya khususnya para orang dewasa dalam menciptakan suasana yang mengedukasinya sebagai generasi masa depan.

Ancaman Virus pornografi, pornoaksi, menyebar semakin ganas. Pendidikan dan contoh yang tidak senonoh pun seringkali dijumpai baik di keluarga, sekolah ataupun dijalanan. Kalau saja orang tuanya sendiri memberikan didikan tidak senonoh atau pornografi pada anak-anaknya, akibatnya mereka tidak sekedar mempertanyakan ketidakpantasan apa yang diperbuat orang tuanya, akan tetapi mendorong mereka untuk mencoba mengadopsi untuk digunakan sebagai aksesori perjalanan sejarah kehidupannya.

Dalam Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak sudah disebutkan, bahwa orangtua, masyarakat, dan sekolah bersama negara diberi kewajiban menciptakan atmosfer sosial dan edukatif yang mendukung pertumbuhan psikologis dan fisik anak, tetapi sering alpa untuk menyiapkan atmosfer ekologi edukasi terbaik padanya.

Hilangnya atau tereduksinya hak anak untuk tumbuh berkembang dengan baik itu sudah diingatkan oleh Imam Al-Ghazali, bahwa anak akan tumbuh menjadi mutiara yang berkilauan jika diasah dengan didikan yang baik, tetapi sebaliknya, anak akan tumbuh menjadi sosok manusia yang tidak berguna bilamana dididik atau dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan yang bercorak melanggar akhlak.
Dalam titah Al-Gazali, anak akan tetap menjadi mutiara yang berkilau cemerlang sesuai dengan yang mencondongkannya. Anak tidak akan kehilangan cahaya kemilauannya, bilamana dicondongkan pada kebajikan, kebenaran, dan kesusilaan. Sebaliknya, anak akan berperilaku menyimpang, ketika dicondongkan pada ajaran atau perilaku ketidakbenaran dan ketidakpantasan.

Itu menjadi kado kritik kepada orang dewasa, bahwa nasib anak-anak Indonesia, khususnya anak didik ikut ditentukan oleh pola edukasi dan kewaspadaan sebagai orang tua. Kesalahan dan keteledoran serta kesengajaan dalam eksperimentasi budaya asal boleh atau asal menyenangkan akan menjadi celah yang dapat menjerumuskan anak dalam lingkaran setan yang menghancurkan masa depanya.

Mereka itu bisa terseret memasuki pusaran kehidupan pergaulan yang mengajaknya jadi generasi kriminalis akibat pengaruh sepak terjang orang dewasa yang kehilangan habitat kewajiban edukasinya. Orang tua yang terjerumus dalam pembenaran pola berganti-ganti pasangan misalnya, akan menciptakan virus kecenderungan dalam diri anak untuk melakukan hal yang sama atau lebih buruk dibandingkan apa yang diperbuat orang tuanya. Naudzubillahi min dzalik..


Orangtualah pendidik pertama sekaligus utama

Pendidikan utama dan pertama
Di dalam keluargalah pendidikan sebenarnya harus dimulai, disini pula peletakan dasar pendidikan utama sebelum anak masuk sekolah. Di dalam keluarga anak-anak memperoleh pendidikan dengan bebas dan cintakasih tanpa perlunya perubahan kurikulum yang ketat. Materi pendidikan apa saja yang kemudian dapat dikembangkan kelak jika anak masuk ke sekolah. Pada saat ini orangtua berkewajiban mengajar anak-anak untuk belajar berhitung, membaca, budi pekerti, agama, ilmu alam dst… Sistem pendidikan yang diterapkan, tentu saja sejauh orangtua mampu dan berhasil mendidik, bisa dengan cara keteladanan/contoh ataupun refleksi hidup sehari-hari (dalam istilah sekarang CBSA). Dalam hal pendidikan budi pekerti lebih diutamakan pelaksanaan daripada ajaran atau wacana/omongan “hidden curriculum”.

Ketika orangtua tidak mampu lagi untuk mendidik anak-anaknya, maka mereka minta bantuan instansi pendidikan atau sekolah. Sekolah adalah pembantu orangtua dalam mendidik anak-anaknya. Dengan segala kemampuan, antara lain dana/uang, orangtua berusaha untuk mengusahakan sekolah yang bermutu. Dan yang menarik kita adalah bagaimana orang yang sadar akan pendidikan tidak akan segan-segan untuk membayar mahal demi pendidikan anaknya. Dan memang pendidikan yang bermutu pada hakekatnya mahal , jika orangtua membayar murah pasti ada instansi lain yang membayar, entah pemerintah atau swasta. Dari pengalaman dan pengamatan pribadi, saya juga dapat mensharingkan: orangtua yang baik sungguh sadar akan pentingnya pendidikan bagi anak-anaknya. Maka jika mereka tidak mempunyai uang/dana untuk membayar uang sekolah, tidak segan-segan mereka mencari pinjaman (paling tidak ini pengalaman penulis serta pengamatan penulis terhadap orangtua yang sadar pendidikan).

Belajar dari orangtua
Dalam hal apa kita dapat belajar dari para orangtua, pendidik pertama dan utama, yang berhasil mendidik anak-anaknya. Berikut saya sampaikan refleksi kami:
1) kebebasan dan cinta kasih: tanpa kebebasan dan cintakasih, pendidikan akan gagal. Cintakasih tanpa batas alias bebas, sedangkan kebebasan batasnya adalah cintakasih, dimana orang tidak melecehkan atau merendahkan yang lain (Ingat: Pendidikan yang membebaskan dari Paulo Freire). Dengan kata lain semakin banyak aturan yang dikenakan di dalam dunia pendidikan, hemat kami merupakan rambu-rambu yang menunjukkan pendidikan akan gagal. Dalam hal kebebasan dan cintakasih lebih banyak dibutuhkan keteladanan atau kesaksian dari para pendidik/guru. Anak yang tertekan atau suasana pendidikan yang menekan akan membuat frustrasi, dan jika anak atau siapapun berada dibawah tekanan, jelas mereka tidak akan mudah untuk berkembang dan bertumbuh.
2) perhatian terhadap pendidikan = opsi pada anak-anak: Perhatian orangtua terhadap pendidikan dengan jelas dapat dilihat dengan penyediaan dana yang memadai, meskipun dengan mencari hutang. Sayang negara kita mencari hutang yang begitu besar, tetapi tidak terarahkan ke pendidikan, tetapi ke material. Pemerintah lebih menekankan “material investment” dari pada “human investment”. Atau dalam istilah “the man behind the gun”, lebih memperhatikan “the gun” daripada “the man”. Kami himbau agar para petinggi negara atau bangsa ini atau mereka yang berhasil jadi ‘orang’: sadarlah bahwa pendidikan itu mutlak harus diutamakan. Sediakan dana yang memadai untuk pendidikan, belajarlah dari para orangtua yang berhasil mendidik anak-anaknya: mencari hutang bukan untuk membangun gedung/rumah, tetapi untuk menyekolahkan anak-anaknya.
3) pendidikan budi pekerti/agama sebagai “hidden curriculum”: Pendidikan budi pekerti/agama lebih ditekankan dalam pelaksanaan hidup sehari-hari, yang menjadi nyata dalam cintakasih kepada sesama, terutama terhadap mereka yang miskin atau kurang beruntung. Demikian sekedar sharing pengalaman dan pengamatan pribadi, semoga bermafaat

Quoted by Sangsurya Institute


Pelajaran yang berharga bagi saya!!

Tulisan ini adalah pengalaman saya sendiri beberapa tahun yang lalu, setelah saya membaca dan menelaah berbagai kejadian dan pengalaman akhirnya saya menemukan sebuah kalimat mengenai Logika Terbalik. dalam sebuah buku saya menemukan arti dari kalimat itu bahwa Logika Terbalik artinya menjawab persoalan dengan cara merekayasa akibat dengan harapan mengubah sebab. maksud dari pengertian itu pastinya bingung bukan? oke misal saya ambil contoh dari ilmu psikologi.

Ilmu psikologi menyatakan bahwa kita akan bahagia ketika kita mendapatkan yang kita inginkan dan orang yang bahagia biasanya berbuat baik. Sekarang anda sedang tidak bahagia, maka logika biasa memberikan solusi kepada anda untuk mendapatkan apa yang anda inginkan dengan demikian anda akan bahagia. Berbeda dengan solusi yang diberikan logika terbalik. Karena orang bahagia bisanya berbuat baik, maka anda berbuat baik saja (walaupun anda sedang tidak bahagia) pasti nanti anda akan bahagia.

Saya pikir ini benar, karena saya sendiri pernah membuktikannya. Saya pernah mengajar disalah satu yayasan pendidikan. Waktu itu bagian saya mengajar, tapi rasanya malas sekali. Saya masuk kelas, lalu saya mengajar dengan asal-asalan pada hari itu. Anak-anak yang saya ajar juga demikian, karena melihat gurunya tidak semangat, merekapun merespon dengan tidak semangat juga (teori umum timbal balik).

Saya teringat kepada logika terbalik. Guru yang semangat biasanya ceria, responsif, bicara keras, menghibur dengan guyonan, dan aktraktif dalam mengajar. Akhirnya saya pura-pura seperti yang ceria, responsive, bicara dikeraskan, dan menceritakan kisah-kisah lucu ilmuan fisika. Hasilnya anak-anak menjadi semangat karena melihat gurunya semangat. Anda tahu apa yang menarik? yang tadinya saya pura-pura semangat, tiba-tiba saya jadi semangat betulan.

Sejak saat itulah saya selalu berusaha untuk semangat dan ceria, meski sama dengan orang lain masalah ada saja menghampiri, namun dengan cara menangguhkan kesedihan dan sedikit menyembunyikan hal-hal yang bisa menimbulkan turunnya mood saya, saya tetap berusaha sekuat tenaga agar terlihat senang dan menikmati hari-hari yang dijalani. Keep smiling brooo…